Mana yang Benar, Back to Veda atau Back to Dharma

Gede Agus Budi Adnyana

Ada sebuah kalimat yang sering sekali terdengar dan diucapkan oleh sebagian besar masyarakat intelektual Hindu, yakni back to Veda. Mungkin berarti kembali ke Veda, dan seruan ini adalah baik. Namun kalimat itu sering kali ditujukan kepada tata cara beragama Hindu di Bali. Saya sendiri kerap kali mendapatkan kalimat itu, ketika saya melakukan ritual persembahan banten. Hingga terakhir kalinya, ketika sedang ngewayang lemah, dalam rangka piodalan di Pura Puseh, seorang sahabat yang merupakan intelektual Hindu menyatakan kepada saya: seharusnya Anda back to Veda, dan upacara Veda tidak ada menggunakan wayang kulit.

Kalimat back to Veda, mungkin didapat dari membaca buku-buku Hindu dari berbagai macam guru parampara. Saya memahami hal itu, namun arogansi sahabat saya ini, terlalu tinggi. Setiap kali upacara agama ala Hindu Bali, dia selalu mengkritik dan menyatakan back to Veda. Nah, sekarang kalimat positif ini malah menjadi sebuah ambiguitas yang justru secara tidak langsung menyatakan bahwa apa yang dilakukan agama Hindu di Bali, tidak berdasarkan Veda.

Pengertian pertama adalah kembali kepada Veda. Apa pun bentuk tattwa, etika dan upacara kembali ke Veda. Ini saya setuju. Pengertian ke dua, adalah dengan dilayangkan kalimat itu, seolah-olah apa yang dijalankan agama Hindu di Bali, tidak berdasarkan Veda. Atau sudah pernah sesuai Veda, namun melenceng kemudian, dan mengundang prihatin kalangan intelek dan menyerukan untuk kembali ke Veda. Sekedar paham saja, UUD 1945 anggap saja Veda. Seluruh umat Hindu nyungsung Veda, dan demikian juga seluruh Indonesia sungkem pada UUD 45.

Tetapi, di setiap daerah, ada PP dan Perda yang berbeda satu sama lain. Perda Aceh dan Bali, atau Jabar dan Kaltim, tentu berbeda, sesuai dengan kondisi, serta situasi daerah bersangkutan. Demikian juga dengan Acara Hindu di Bali, akan berbeda dengan India. Tetapi seluruh umat Hindu sungkem pada Veda. Masalah persembahan itu ada daging panggangnya, jangan dipermasalahkan. Sebab dalam Reg Veda sendiri dinyatakan.
Yat te gatrad angina pacyamanad
Abhi sulam nihatasyavadhavati
Ma tad bhumyam a srisan ma trnesu
Devebhyas tad usadbhyo ratam astu

“Apa yang menetes dari daging panggang yang ada di atas panggangan, jangan dibiarkan tumpah di tanah atau di atas rumput. Persembahkanlah itu semuanya kepada para Dewa”. (Reg Veda Samhita. I. 162. 11)

Nah, agar lebih mudah memahami, Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastuti, adalah urutannya. Ketika Acara berbeda, maka merujuk pada Sila (Keputusan para Brahmana). Ketika Sila berbeda, maka masuk ke Smrti dan apa pun yang bertentangan, Srutilah yang menjadi acuan utamanya. Kitab Reg Veda adalah kitab Sruti, jadi persembahan dengan daging sudah berlandaskan Veda.

Kemudian masalah wayang, itu diatur dalam indik-indik yang kita kenal dengan nama Mahayu Dewa (lontar disalin dan diterjemahkan secara pribadi). Itu sebagai seni sakral jenis Wali, pengiring upacara, dan disinilah terlihat Hindu sebagai agama yang estetik. Disamping itu juga sebagai sebuah media penyebaran ajaran Dharma. Maka janganlah menyatakan bahwa upacara dengan diiringi oleh wayang lemah, tidak berlandaskan Veda.

Kemudian nyanyian Wirama di Jawa dan Bali, untuk lebih mudahnya, saya akan paparkan hal berikut. Biasanya metrum jenis ini jumlah suku katanya adalah 32 suku kata. Kemudian dalam satu pada (baitnya) terdiri dari 4 baris. Anustup ini pun memiliki beberapa jenis varian, tergantung dari jumlah suku katanya. Adapun jenis tersebut yakni: (1) Anustup jumlah suku katanya 32 (8+8+8+8); (2) Mahapada-Pankti jumlah suku katanya 31 (5+5+5+5+5+6); (3) Krti jumlah suku katanya 32 (12+12+8); (4) Pipilikamadhya jumlah suku katanya 32 (12+8+12); (5) Kavirat jumlah suku katanya 30 (9+12+9); (6) Nastarupi jumlah suku katanya 32 (9+10+13); (7) Virat jumlah suku katanya 30 (10+10+10); (8) Virat kedua jumlah suku katanya 33 (11+11+11).

Mantra dalam kitab Reg Veda Samhita, biasanya lebih banyak menggunakan metrum ini pada mandala V, mandala IV, IX dan juga mandala VII.

Brhati

Metrum ini terdiri dari 36 suku kata, dan dalam beberapa mantra jenis ini sering diklasifikasikan kembali menjadi sembilan jenis, yakni. (a) Brhati pertama suku katanya 36 (9+9+9+9); (b) Brhati ke dua suku katanya 36 (8+8+12+8); (c) Purastad-Brhati jumlah suku katanya 36 (12+8+8+8); (d) Sarini jumlah suku katanya 36 (9+12+8+8); (e) Uparistad-Brhati suku katanya 36 (8+8+8+12); (f) Vistara-Brhati suku katanya 36 (8+10+10+8); (g) Urdhva-Brhati suku katanya 36 (12+12+12); (h) Pipilika-Brhati suku katanya 34 (13+8+13); (i) Visama-Brhati suku katanya 36 ( 9+8+11+8).

Jenis di atas sangat lumrah kita temukan dalam kakawin yang dikumandangkan dan berlaku fungsional di Bali, seperti Visama, Sarini, Vistara. Tidak mungkin leluhur kita membuat sebuah kakawin dengan cemerlang demikian tanpa membaca Veda. Lalu dimana letak tidak pahamnya agama Hindu Bali dengan Veda? Meskipun bahasa yang dipergunakan adalah Sansekerta Archipelago, namun tetap merujuk pada Veda.
Lalu ketika tudingan back to Veda terus menusuk tata cara beragama Hindu di Bali, apakah ini berarti umat Hindu di Bali tidak berdasarkan Veda. Saya jawab dengan tegas, bahwa Hindu di Bali adalah Hindu dengan berpijak pada Veda. Alangkah bijaksananya, jika kita tidak mengindiakan Bali, atau membalikan India. Tidak elok juga rasanya, ketika datang ke Pura, seluruh krama menggunakan Dotti dan meniadakan bija atau pamor di Bali. Tidak etis juga ketika semua bhakta harus datang ke Mandir di Kedaranatha menggunakan topeng Siddhakarya saat odalan.

Jadi Hindu adalah air yang mengalir jernih dengan sangat mempesona. Jangan membatasi keuniversalan Hindu hanya pada satu daerah atau negara saja. Bukankah orang yang terpelajar adalah orang yang bisa menghargai dan melestarikan warisan nenek moyangnya dulu? Sebaiknya back to Veda disampaikan pada para pemabuk di jalan atau para pengedar ganja dan terroris, bukan pada jero mangku dan penekun mistsime Bali. Lalu, kalimat mana yang harus kita sering dengarkan? Kalimat back to Dharma. Itu jawabannya.

Majalah Hindu Raditya

Iklan