Dalam Bhagawad Gita, Makan Makanan Sukla, Sama dengan Pencuri

Jawapos, Minggu, 19 Nov 2017 14:37 |
Editor : I Putu Suyatra

Dalam Bhagawad Gita, Makan Makanan Sukla, Sama dengan Pencuri

Mpu Jaya Prema (AGUNG BAYU/BALI EXPRESS)


BALI EXPRESS, BALI – Ketika umat muslim memiliki, halal dan haram. Di Bali muncul branding makanan sukla. Namun yang menjadi tidak nyambung, Hindu mengenal apa pun yang sukla dipersembahkan ke Ida Sang Hyang Widhi. Apakah kita makan yang sukla atau lungsuran (setelah dihaturkan)?

Menurut Mpu Jaya Prema, Sukla adalah istilah budaya dalam masyarkat Hindu Bali yang mengandung pengertian makanan atau persembahan yang suci. Kalau merujuk pada ajaran agama, makanan atau apa pun menurut Mpu Jaya Prema yang disebut sukla adalah hal-hal yang akan dipersembahkan kepada Tuhan, baik melalui dewa dewi (Istadewata) maupun persembahan kepada leluhur.

Setelah dihaturkan dilanjutkan Mpu Jaya Prema, maka jadilah makanan itu prasadam yang di dalam bahasa Bali dipakai kata lungsuran atau paridan.

“Inilah yang akan kita makan, bukan memakan yang masih sukla,” jelas wartawan senior Tempo ketika masih walaka.

Jadi menurut Mpu Jaya Prema, istilah sukla tersebut dipakai untuk menunjukkan bahwa itulah makanan yang “layak makan” secara agama sangat bertentangan. Bahkan dianggap melanggar ajaran Hindu itu sendiri. Karena ajaran Hindu menyebutkan bahwa makanan yang “layak makan” adalah makanan yang sudah dipersembahkan terlebih dahulu. Prasadam atau lungsuran, itulah makanan yang utama.

Terkait makanan sukla ini, Mpu Jaya Prema menyebutkan jika ketentuan untuk mengkonsumsi makanan yang layak makan sudah diatur dalam Bhagawad Gita IV-31 yang berbunyi: Yajna sistamrta bhujo – yanti brahma sanatanam – nayam loko sty ayajnasya – kuto nyah kuru-sattama. Terjemahan bebasnya: “Mereka yang makan makanan suci yang setelah melalui suatu persembahan atau pengorbanan akan mencapai Brahman Yang Abadi (Tuhan). Dunia ini bukan untuk orang yang tak mau mempersembahkan suatu pengorbanan atau yadnya,” urainya.

“Bahkan dalam sloka lainnya disebutkan, mereka yang makan makanan yang belum dipersembahkan tak ubahnya seorang pencuri,” sambungnya.

Salah satu contohnya adalah ketika selesai memasak di dapur, umat dikatakannya tidak perlu memboyong semua makanan ke pura. “Para leluhur kita sudah memberikan contoh yang praktis dengan cara selesai memasak ambil sejumput nasi dan lauk yang kita makan, lalu persembahkan dengan istilah yang biasa disebut mesaiban atau ngejot atau mungkin kata lain sesuai budaya setempat,” lanjutnya.

Sedangkan jika makan di restoran atau tempat makan lainya, jika umat tidak yakin dengan makanan tersebut sudah dipersembahkan atau belum, maka umat Hindu dikatakan Mpu Jaya Prema bisa mempersembahkan makanan tersebut di tempat itu juga dengan cara mengambil sejumput nasi dan lauk, taruh di pinggir piring dan dilanjutkan dengan berdoa pendek, “Om anugraha amertha di sanjiwani ya namah swaha. Artinya, mari kita persembahkan makanan yang sukla itu dan mari kita makan sisa makanan (prasadam) sebagai makanan yang suci,” kata Mpu Jaya Prema.

Menyangkut dengan makanan, sehat mengacu ke sastra Hindu, kata Mpu Jaya Prema, Bhagawad Gita menguraikan dari sisi kesehatan dan pengaruhnya terbagi dalam tiga jenis yakni satwika (sattvik), rajasika (rajasik) dan tamasika (tamasik).

Dalam Bagawad Gita Bab XVII-8 menyebutkan ciri makanan yang bersifat satwika yakni makanan yang memperpanjang hidup dan menunjang kesucian, tenaga, kesehatan, kebahagiaan, dan kegembiraan, yang manis, lembut, penuh dengan gizi. Di sloka 9, disebutkan yang bersifat rajasika yakni makanan yang pahit, asam, bergaram, terlalu pedas, berbau, kering dan membakar, yang menimbulkan penderitaan, kesusahan dan penyakit. Di bab sama sloka selanjutnya (sloka 10) disebutkan yang bersifat tamasika yakni makanan yang tak segar, tak berasa, basi, tidak bersih.

Lebih lanjut dipaparkan Mpu Jaya Prema, makanan sattvik,  ini bisa menambah kewibawaan, intelektualitas, kekuatan, kesegaran, kesehatan, kenikmatan lahir dan batin, kegembiraan, dan kebahagiaan hidup. Jenis makanan ini antara lain beras, gandum, mentega, buah-buahan segar. Selanjutnya adalah makanan rajasik untuk mereka yang masih diliputi dengan nafsu dan keinginan duniawi. Misalnya daging dan makanan yang penuh rasa. “Sedang makanan tamasik adalah jenis makanan yang disukai oleh mereka yang hidup dalam kegelapan. Misalnya yang membuat mabuk dan malas,” paparnya.

(bx/gek/bay/art/yes/JPR)

Iklan