Santi Parwa

Renungan malam minggu.
Sebuah catatan tentang itihasa (Santi Parwa)

Setelah upacara penyucian arwah para pahlawan, yudistira duduk dengan sedih. Ia merasa berdosa karena dia telah menyebabkan beribu – ribu orang kehilangan suami, kehilangan ayah atau kehilangan anak tempat menggantungkan harapan. Ia lalu berkata kepada bima “oh bima, aku akan pergi bertapa untuk menebus dosa – dosa ini. Aku akan hidup di hutan menyucikan diri pagi, dan sore. Aku akan mengabdikan diri sepenuhnya memuja tuhan, para dewa dan para pitri dengan mempersembahkan bunga, buah , air diiringi stuti dan stawa yang sahdu. Aku hanya akan makan buah yang jatuh dari pohon. Aku tidak punya keinginan apa – apa lagi, kecuali keinginan untuk menyucikan diri. Oleh karena itu, aku minta engkau perintahlah hastina ini”.

Bima pun menjawab, “ setelah musuh – musuh terkalahkan, oh kakanda, adalah kewajiban kakanda untuk memerintah hastina. Kehidupan sebagai pertapa barulah boleh kanda lakukan setelah kanda menyelesaikan tugas utama sebagai seorang kesatrya, yaitu memerintah kerajaan ini ”.

Karena bima tidak bersedia, maka yudistira pun meminta kepada arjuna. Arjuna pun menjawab, “ oh kanda, kita hendaknya hidup sesuai kodrat. Kodrat sebagai seorang kesatrya adalah membunuh musuh. Orang yang membunuh musuh ketika masih memegang senjata atau musuh yang bergerak maju bukanlah dosa. Selain itu, kodrat seorang ksatrya adalah melindungi rakyat. Nah sekarang setelah kakak membunuh musuh, maka kewajiban kakaklah untuk memerintah negeri ini”.

Karena arjuna juga menolak, yudistira lalu  meminta kepada nakula. Nakula pun menjawab, “ oh kanda, sebelum kanda pergi bertapa, kanda harus menyelesaikan dahulu tugas sebagai grahasta. Kewajiban sebagai grahasta jauh lebih mulia dibandingkan dengan kewajiban hidup yang lain. Apabila kewajiban grahasta diletakkan disalah satu lengan timbangan, maka ketiga kewajiban lainnya harus diletakkan semuanya dilengan yang lain untuk menyeimbangkannya. Oleh karena itu, pada saat ini kanda jangan berpikir untuk pergi kehutan”.

Sahadewa tanpa diminta langsung berkata, “ menurut pendapat hamba, tidak satupun makhluk di dunia ini yang bebas dari pembunuhan untuk mempertahankan hidupnya. Bahkan para pertapa pun tidak bisa hidup tanpa membunuh. Oleh karena itu, janganlah kanda merasa berdosa karena telah melakukan pembunuhan. Sekarang adalah kewajiban kanda memegang pemerintahan demi untuk melindungi dharma, arta, bahkan kama. Kalau kakak menolak untuk memimpin, maka dharma akan hancur, kandalah yang berdosa’.

Drupadi juga ikut menambahkan, “ ingatlah akan kata – kata yang kanda ucapkan waktu kita masih dalam pembuangan. Bukankah waktu itu kanda menekan kemarahan kami dan berjanji bahwa setelah masa pembuangan berakhir, kita akan merebut kembali wilayah kita. Kenapa sekarang kanda ingin mengundurkan diri? apa artinya pengorbanan para pejuang  kalau sekarang kanda mundur dari kewajiban?

Yudistira belum bisa menerima pendapat adik – adik dan istrinya. Ia masih bertekad untuk menebus dosa dengan melakukan pertapaan dihutan. Pada saat itu datanglah Bhagawan Byasa. Ia lalu memberikan wejangan yang panjang lebar tentang kewajiban – kewajiban yang harus dilakukan dengan berbagai ceritra sebagai cerminan. Inti ajarannya antara lain :

1.      Semua kesatrya yang tewas adalah atas dasar kewajiban. Oleh karena itu, hilangkanlah rasa sedih dan rasa berdosa mengingat semua itu didasarkan atas kewajiban.

2.      Apabila dengan membunuh satu orang seluruh keluarga dapat diselamatkan atau apabila dengan membunuh sebuah keluarga seluruh kerajaan dapat diselamatkan, maka perbuatan membunuh demikian itu bukan dosa.

3.      Orang tidak boleh membunuh atau menyebabkan binatang terbunuh, kecuali untuk upacara.

4.      Orang yang menyadari kesalahan dan perbuatan dosa yang telah dilakukannya serta bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, maka dosa – dosa itu dapat disucikan dengan yoga, upacara – upacara penyucian atau perbuatan yang berdharma.

5.      Dosa itu ada dua jenis yaitu : yang dilakukan secara sadar dan yang dilakukan secara tidak sadar. Dosa yang dilakukan secara sadar merupakan dosa yang berat sementara yang dilakukan secara tidak sadar / tidak sengaja mmerupakan dosa yang ringan.terdapat cara penyucian bagi kedua dosa tersebut yaitu : mengucapkan mantra dalam hati, berpuasa, menyucikan diri di sungai keramat dan bertirtayatra ketempat – tempat suci.

Setelah mendengarkan wejangan – wejangan dari Bhagawan Byasa, kesedihan Yudistirapun lenyap dan pikirannya menjadi damai (santi). Iapun lalu berdiri dan bertekad untuk melakukan apa yang terbaik bagi kerajaan hastina. Dengan di dahului oleh Drestarasta dan Gandhari, merekapun beriring – iringan menuju kota kerajaan.

Nilai – Nilai Yang Terkandung Didalam Cerita Santi Parwa :

Nilai kepemimpinan : dimana pada saat yudistira sudah melakukan swadarmanya sebagai seorang raja dalam peperangan yang terjadi untuk merebut kembali kerajaan hastina.Nilai etika : dapat dicerminkan bahwa pada saat yudistira merasa sedih karena merasa berdosa telah membunuh sekian banyak daripada pahlawan dan masyarakat, yudistira tidak mau mendengarkan nasehat – nasehat yang diberikan oleh adik – adik dan istrinya. Namun pada saat bhagawan bysa yang memberikan nasehat dengan wejangan – wejangan yang dilontarkan oleh bhagawan byasa maka barulah yudistira bangkit dan sadar akan kewajibannya sebagai seorang raja yang harus mensejahtrakan rakyatnya.

Semoga bermanfaat swaha

Iklan