Tak Ada Istilah Batal Puasa, Ini Cara dan Mantra Tapa Brata Siwaratri

BALI EXPRESS, DENPASAR – Shivaratri atau Siwaratri jatuh pada Purwani Tilem Kapitu, Senin (15/1/2018)  malam ini. Di malam paling gelap ini, umat Hindu menjadikannya momen peleburan kegelapan bathin. Seperti apa pelaksanaannya?

Siwaratri adalah malam pelatihan bathin dari kegelapan menuju penerangan. Teks Sansekerta yang memuat uraian tentang Shivaratri adalah Padma Purana. “Teks ini kemudian diadaptasi ke dalam lontar Siwaratri Kalpa (Kekawin Lubdhaka) oleh Mpu Tanakung, seorang Mpu dari Jawa Timur di Abad ke-15 M,” urai Rasa Acharya Prabhuraja Darmayasa, tokoh spiritual dari Padangtegal Ubud, Gianyar kepada Bali Express (Jawa Pos Group) di Denpasar, kemarin.

Melalui kekawin itu, Mpu Tanakung menceritakan kisah seorang pemburu yang penuh dosa bernama Lubdhaka, yang karena melaksanakan Tapa Brata Shivaratri, akhirnya bertemu Betara Siwa dan mendapat anugerah pembebasan alias moksha.
Dikatakan President of World of Divine Love Society ini, Shivaratri jatuh pada Purwani Tilem Kapitu, malam paling gelap. Malam gelap merupakan simbolik Sad Ripu (kegelapan bathin). Shiva adalah pamralina atau pelebur, Ratri berarti malam atau kegelapan. Shivaratri berarti malam peleburan kegelapan bathin. “Shivaratri adalah malam pelatihan bathin dari kegelapan menuju penerangan,” beber penerjemah Bhagavadghita ini.
Berita Terkait
Siwaratri, Malam Perenungan Dosa, Bukan Begadang Biasa
Imbangi Sekala-Niskala, Siwaratri untuk Introspeksi Diri
Karena itu, lanjut Darmayasa, pada setiap hari Shivaratri, dilaksanakan Tapa Brata Shivaratri, yaitu Upavasa (puasa makan-minum], Monabrata (puasa bicara) dan Jagra (sadar atau tidak tidur). “Dengan membebaskan diri dari sad ripu, kita bisa mengikuti tapa yoga Dewa Shiva dan memperoleh berkah pembebasan dari beliau,”sarannya.
Tak disanggahnya, banyak orang terjebak, seolah-olah hanya karma baik yang bisa menjadi sumber kesucian bathin. Hal itu tidak sepenuhnya benar. “Karma baik bisa menjadi awal bathin yang gelap, kalau kita merasa baik lalu kita jadi sombong. Merasa diri suci, lalu orang lain kita sebut kotor. Merasa diri benar, orang yang berbeda kita sebut salah atau sesat,” ujar penulis  ratusan buku spiritual dalam berbagai bahasa ini.
Ditegaskannya, tidak semua karma buruk itu berakhir pada kegelapan bathin. Dia sebaliknya bisa menjadi sumber kesucian bathin, bila kita sadar dan bertobat. Kekurangan-kekurangan kita, rasa bersalah kita, kita gunakan sebagai janji untuk berlatih lebih keras. Kebaikan bisa jadi sumber kesucian bathin, itu sudah jelas, tapi keburukan juga bisa. Kebanyakan yogi yang perjalanannya jauh, umumnya memang punya karma baik yang dominan. Tapi bila kita punya kekurangan masa lalu, lebih-lebih kekurangannya parah sekali, belajarlah dari kisah Lubdhaka.
“Melalui keteguhan hati melaksanakan Tapa Brata Shivaratri, seseorang bisa bertemu kesucian.  Kalau karma buruk kita lebih dominan, tentu saja perjalanan kita akan lebih berat,” ujarnya.

Tapa Brata Shivaratri dilaksanakan dengan tiga hal, yakni Upavasa (puasa makan-minum). Kata puasa berasal dari Bahasa Sansekerta ‘Upavasa’, yang terserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi puasa. ‘Upa’ berarti dekat dan ‘vasa’ (wasa) berarti yang maha agung. Jadi, Upavasa berarti mendekatkan diri kepada maha kesadaran agung.

Ditegaskan Darmayasa, Upavasa sama sekali tidak terletak pada siksaan atau penderitaan yang harus dialami dengan tidak makan atau minum. Tujuan Upavasa adalah mengendalikan badan (indriya) dan pikiran dari objek-objek luar. Karena dari objek- luar yang direspon oleh badan (indriya) dan pikiran, munculah Sad Ripu (enam kegelapan bathin). Dari Sad Ripu munculah tindakan. Tindakan akan melahirkan pengalaman. Dan, pengalaman-pengalaman buruk dalam hidup akan dimulai dari Sad Ripu yang tidak terkendali.

“Dalam Upavasa tidak ada dikenal istilah batal puasa. Ketika tubuh kita tidak mampu lagi menahan lapar atau haus, silakan makan-minum, tidak apa-apa. Yang penting pikiran dan indriya kita tetap dikendalikan dengan baik. Paling tidak (minimal) agar tidak memiliki pikiran negatif terhadap objek luar apapun, selalu berpikir positif,” urainya.

Tapa Brata Shivaratri selanjutnya adalah  Mona Brata (puasa bicara). Mona Brata berarti tidak bicara atau diam. “Puasa yang lebih sempurna dari tidak makan-minum adalah ditambah dengan diam. Tidak saja mulut atau badan yang puasa, tapi pikiran juga puasa. Dengan diam lebih mungkin pikiran kita melakukan puasa. Tidak memikirkan hal ini dan hal itu, tidak memperdebatkan hal ini dan itu, tidak menghakimi hal ini dan itu,” ujar Darmayasa.

Ditambahkannya, ketika pikiran dan perasaan kita sedang diganggu oleh kemarahan, ketersinggungan, iri hati dan segala bentuk Sad Ripu lainnya, segeralah diam. “Hampir semua kecelakaan dalam hidup, seperti  berkelahi, bertengkar, dan lainnya karena kita berbicara saat emosi kita terganggu. Sehingga begitu pikiran dan perasaan kita ada gangguan, jangankan besar, kecil saja cepatlah diam, karena diam sangat menyelamatkan. Menyelamatkan diri kita sendiri dan menyelamatkan orang lain,” pintanya.
Dikatakannya, dalam cerita tetua Jawa juga ada kisah kura-kura yang karena kemarau panjang lalu pindah atau migrasi, dibantu burung. Kura-kura menggigit kayu lantas diterbangkan dua burung. Melihat fenomena langka seperti ini, sejumlah anak-anak berteriak gembira  dan berkata : “Hai burung, betapa cerdasnya ide kalian.

” Seketika saja kura-kura menjawab : “Ini bukan ide burung, tapi ideku.” Dan, jatuhlah sang kura-kura dari langit, mati dengan badan berantakan. “Ini kisah untuk mengingatkan kita agar hati-hati dengan ego. Berbicara atas nama ego memiliki risiko demikian besar,” bebernya.

Tapa Brata Shivaratri ketiga adalah Jagra (sadar). Umumnya dalam pelaksanaan Shivaratri dimaknakan sebagai tidak tidur semalam suntuk sambil meditasi, mulat sarira (introspeksi diri) ataupun aktivitas lain seperti memusatkan diri pada Dewa Shiva.  “Akan tetapi sadar yang dimaksud dalam kisah Lubdaka tidak semata sebatas sadar tidak tidur. Lebih jauh lagi, ia juga mengandung arti selalu sadar (tidak tidur) kepada segala bentuk kegelapan bathin atau Sad Ripu,” katanya.
Ketika Lubdhaka berada di atas pohon, untuk mencegah rasa kantuknya ia memetik daun bila helai demi helai, lalu menjatuhkannya ke bawah, tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan.

“Ini memberi makna pentingnya kita untuk selalu sadar.  Sebagian besar penglihatan, pemahaman dan persepsi kita sebenarnya diproduksi oleh pikiran. Apa yang kita sebut dengan bahagia dan sedih sebenarnya tidak lebih dari sekadar produk pikiran. Sehingga titik berangkat dari evolusi bathin adalah sadar dan waspada (tidak pernah tidur) pada setiap gerak-gerik Sad Ripu,” papar Darmayasa.

Siapa saja yang tekun berlatih menerangi bathin dengan kesadaran, menjauhkan hidup dari Sad Ripu, lanjutnya, hidupnya menjadi sejuk dan damai, sekaligus bergerak mendekat dengan realitas diri yang sejati.
Dicontohkannya, seringkali kita baru sadar bahayanya judi setelah banyak harta habis. Kita baru sadar betapa bahagianya hidup jujur setelah kita masuk penjara karena korupsi. Kita baru sadar celakanya selingkuh setelah pasangan hidup menuntut cerai.
“Berbagai godaan kehidupan ini seringkali menipu dan meninabobokan kita. Inilah yang disebut orang yang menjalani hidup ini dalam keadaan tidur. Banyak diantara kita yang lahir, tumbuh, menikah, mencari nafkah, membesarkan anak dan akhirnya meninggal dalam keadaan tidur. Tanpa pernah tahu dan menemukan siapa realitas dirinya yang sejati,” ujarnya.
Ditambahkannya, titik tolak dari evolusi bathin bisa bermula dari mengelola kesadaran. “Kesadaran bukan saja akan menyelamatkan kita dari banyak badai kehidupan, tapi sekaligus membimbing kita kepada realitas diri yang sejati,” ujarnya. Namun, sayangnya kesadaran bukanlah suatu hal stabil yang mudah dikelola. Sebab kita sudah melewati jangka kehidupan yang demikian lama dengan segala pengaruhnya kepada bathin. Disinilah diperlukan kesabaran.

“Kesabaran bukan saja sumber kedamaian, tapi juga sumber kejernihan dan keheningan. Seperti Lubdhaka yang dengan sangat sabar semalam suntuk memetik daun bila, tanpa memikirkan masa lalu dan masa depan,” ulasnya.

Diterangkannya, kekeruhan pikiran mudah sekali muncul dalam kualitas bathin yang tidak sabar, seperti misalnya marah yang merupakan salah satu hasil dari ketidaksabaran. “Tekunlah berlatih kesadaran, jangan pernah tidur, sampai tidak ada lagi Sad Ripu yang tersisa, yang ada hanya kesadaran agung atau Parama Shiva, semuanya terang benderang,” ujarnya.
Dikatakan Darmayasa, bagi sebagian besar orang yang mempelajari dharma dengan intelek, Dewa Shiva adalah dewa yang dihormati dan dipuja. Tapi bagi para praktisi Tantra, Shiva Sidhanta dan beberapa ajaran tingkat menengah keatas lainnya, Dewa Shiva bukan hanya sebatas pengetahuan intelek, tapi beliau sering hadir langsung untuk memberikan berbagai bimbingan dan berkah spiritual. Deva Shiva adalah maha kesadaran kosmik yang penuh welas asih dan selalu membimbing manusia untuk menuju pembebasan. Bertemu dengan Dewa Shiva adalah sebuah pengalaman langsung (pratyaksa pramana, anubhavam), tidak hanya sebatas pengetahuan.
“Sebagian besar dari kita umumnya berkah dharmanya sebagai orang biasa dan bukan praktisi ajaran tingkat menengah keatas. Tapi, dengan memusatkan pikiran kita kepada beliau, kita juga bisa mendapatkan berkah bimbingan Dewa Shiva guna membersihkan bathin kita dari berbagai kegelapan bathin,” pungkasnya.
Mantra untuk Siwaratri/Shivaratri 

Upa Saksi, Ciwa Raditya
Om Aditya sya Paranjyotir, Rakte   taja namostute, Sweta pangkaja   madyaste, Bhaskara ya namo   namah. Om Hrang Hring Sah  Parama Siwa Ditya ya namo  namah swaha.
Memuja Dewa Brahma
Om Isanosarwa widyana,
Iswara sarwa bhutanam,
Brahmadipati Brahman. Siwastu   Sada Siwa ya, Om Am Brahma  namah.
Memuja Dewa Wisnu
Om Giri Pati Maha Wiryam,  Mahadewa pratista lingam, Sarwa  Dewa pranamyanam, Sarwa  Jagat  pratistanam.
Memuja Dewa Iswara
Om Catur Dewi Maha Dewi,   Catur asrama Bhatari, Siwa   Jagatpati Dewi, Dhurga Masarira   Dewi, Om Anugraha amrtta   sarwa lara winasanam ya nama  swaha.
Memuja Bhatara Ghana
Om Ghana parama tanggoyam, Ghana tatwa para yanamah, Ghana dhiparama pnoti. Sukha  Ghana ame stute.
Memuja Hyang Giripati
Om Am Am iripati wandi,  Lokanatam jagatpati, Danesan  Arana karanam, Sarwa Gunam  mohodyatam, Om Maha Rudram Maha Sudham, Sarwa roga winasanam.
Memuja Hyang Kumara
Om Namah Kumara ya sadhana  ya, Siki dwaja ya pratimaya loka. Sad kartika nanda karya ya   nityam, namastute tasme dwaja Puditam.

(bx/rin/ima/yes/JPR)

Honda CRF
Bank BPD Bali, Cara Mudah Bayar Pajak Kendaraan Bermotor

Berikutnya Siwaratri, Malam Perenungan Dosa, Bukan Begadang Biasa

 SebelumnyaImbangi Sekala-Niskala, Siwaratri untuk Introspeksi Diri

Rekomendasi Untuk Anda

Hewannya Sedikit, Tak Perlu Mapepada, Cukup Masesapaan, Ini Caranya
Hewannya Sedikit, Tak Perlu Mapepada, Cukup Masesapaan, Ini Caranya
Lihat Sinar Putih, Langsung Sakit, Dikira Gila, Dipasung 9 Bulan
Lihat Sinar Putih, Langsung Sakit, Dikira Gila, Dipasung 9 Bulan
Palukatan Sad Ripu Dukuh Penaban, Kayehan Dedari Paling Diminati Pria
Palukatan Sad Ripu Dukuh Penaban, Kayehan Dedari Paling Diminati Pria
Tradisi Megibung, Belajar Etika dan Estetika di Karangasem
Tradisi Megibung, Belajar Etika dan Estetika di Karangasem
Ini Dia Kawasan Sakral Jejak Megalitikum Bertahtakan Batu

Pura Luhur Sekartaji

Ini Dia Kawasan Sakral Jejak Megalitikum Bertahtakan Batu
Begini Ceritanya Palinggih Balang Tamak Ada di Pura Puseh Maupun Desa
Begini Ceritanya Palinggih Balang Tamak Ada di Pura Puseh Maupun Desa

Top Stories


Imbangi Sekala-Niskala, Siwaratri untuk Introspeksi Diri

Imbangi Sekala-Niskala, Siwaratri untuk Introspeksi Diri

Gek Rempongs; Awalnya Mau Menolong Teman, Kini malah Keterusan

Gek Rempongs; Awalnya Mau Menolong Teman, Kini malah Keterusan

Palukatan Sad Ripu; Lantunkan Gaguritan Monyeh Agar Datuk Tak Usil

Palukatan Sad Ripu; Lantunkan Gaguritan Monyeh Agar Datuk Tak Usil

Tradisi Sapi Gerumbungan; Ngider Githa, Wujud Syukur terhadap Dewi Sri

Tradisi Sapi Gerumbungan; Ngider Githa, Wujud Syukur terhadap Dewi Sri

Most Read


Dewasa Pawiwahan Tahun 2018; Hindari Wuku Rangda Tiga

Geng Motor Bau Kencur Pembunuh Darius Semuanya Broken Home dan Miskin

Tak Ada Istilah Batal Puasa, Ini Cara dan Mantra Tapa Brata Siwaratri

Lihat Sinar Putih, Langsung Sakit, Dikira Gila, Dipasung 9 Bulan

Perayaan Siwaratri, Bukan untuk Disalahgunakan

Oleh: Ni Nyoman Tri Wahyuni, S.Pd.H., M.Pd*

Geng Motor yang Membunuh di Kwanji Berusia 13-17 Tahun

Dukung Paket Suwasta, Kader Hanura Diminta Mundur, Atau Dipecat

  BACK TO TOP

Artikel Lainnya


Subscribe
    
https://s7.addthis.com/static/sh.d663e43787b663d5491cf753.html#rand=0.6395528177750411&iit=1516003252395&tmr=load%3D1516003251930%26core%3D1516003252070%26main%3D1516003252375%26ifr%3D1516003252416&cb=0&cdn=0&md=0&kw=Acharya%20Prabhuraja%20Darmayasa%2Csiwaratri%2C&ab=-&dh=www.jawapos.com&dr=http%3A%2F%2Fm.facebook.com%2F&du=https%3A%2F%2Fwww.jawapos.com%2Fbaliexpress%2Fread%2F2018%2F01%2F15%2F40406%2Ftak-ada-istilah-batal-puasa-ini-cara-dan-mantra-tapa-brata-siwaratri&href=https%3A%2F%2Fwww.jawapos.com%2Fbaliexpress%2Fread%2F2018%2F01%2F15%2F40406%2Ftak-ada-istilah-batal-puasa-ini-cara-dan-mantra-tapa-brata-siwaratri&dt=Tak%20Ada%20Istilah%20Batal%20Puasa%2C%20Ini%20Cara%20dan%20Mantra%20Tapa%20Brata%20Siwaratri&dbg=0&cap=tc%3D0%26ab%3D0&inst=1&jsl=1&prod=undefined&lng=en&ogt=alt%2Cheight%2Cwidth%2Cimage%2Cdescription%2Ctitle%2Curl%2Ctype%3Darticle&pc=men&pub=ra-586f743b2e5e4031&ssl=1&sid=5a5c5fb3c3ae5908&srf=0.01&ver=300&xck=0&xtr=0&og=type%3Darticle%26url%3Dhttps%253A%252F%252Fwww.jawapos.com%252Fbaliexpress%252Fread%252F2018%252F01%252F15%252F40406%252Ftak-ada-istilah-batal-puasa-ini-cara-dan-mantra-tapa-brata-siwaratri%26title%3DTak%2520Ada%2520Istilah%2520Batal%2520Puasa%252C%2520Ini%2520Cara%2520dan%2520Mantra%2520Tapa%2520Brata%2520Siwaratri%26description%3DBALI%2520EXPRESS%252C%2520DENPASAR%2520-%2520Shivaratri%2520atau%2520Siwaratri%2520jatuh%2520pada%2520Purwani%2520Tilem%2520Kapitu%252C%2520Senin%2520(15%252F1)%2520%2520malam%2520ini.%2520Di%2520malam%2520paling%2520gelap%2520ini%252C%2520umat%2520Hindu%2520menjadikannya%26image%3Dhttps%253A%252F%252Fwww.jawapos.com%252Fuploads%252Fbaliexpress%252Fnews%252F2018%252F01%252F15%252Ftak-ada-istilah-batal-puasa-ini-cara-dan-mantra-tapa-brata-siwaratri_m_40406.jpeg%26width%3D670%26heig3D421%26alt%3DTak%2520Ada%2520Istilah%2520Batal%2520Puasa%252C%2520Ini%2520Cara%2520dan%2520Mantra%2520Tapa%2520Brata%2520Siwaratri&csi=undefined&rev=v8.1.5-wp&ct=1&xld=1&xd=1

 

Iklan