Mecaru -Butha Yadnya- Menanamkan Nilai-Nilai Luhur

Upacara Mecaru bisa juga disebut Butha Yadnya, ini adalah suatu upacara untuk menjaga mengharmoniskan hubungan antara manusia dengan alam lingkungan sekitarnya, sementara caru sendiri arti nya cantik atau harmonis (kitab Samhita Swara). Mecaru ini dilaksanakan Sehari sebelum hari raya Nyepi, tepat pada bulan mati (tilem).
Satu hari sebelum Hari Raya Nyepi yaitu pada waktu sasih kesanga umat Hindu Bali melaksanakan upacara Butha Yadnya yang diadakan di perempatan jalan dan lingkungan rumah masing-masing, pada upacara ini dibuatkan Caru/persembahan  menurut kemampuan dari yang melaksanakannya. Pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisudha Bhuta Kala dan segala kotoran  yang ada dan berharap  semoga sirna semuanya dan menjadi suci kembali.
Untuk pelaksanaan upacara ini dilakukan dirumah masing masing, caru/persembahan berisikan atau terdiri dari; nasi manca warna (lima warna), lauk pauknya ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Permohonan ini ditujukan kepada Sang Bhuta Raja, Bhuta Kala dan Bhatara Kala agar supaya mereka tidak mengganggu umat manusia.
Sedangkan Butha Yadnya pada hakekatnya merawat lima unsur alam yang disebut panca maha butha (tanah, air, api, udara dan ether). Kalau kelima unsur alam itu berfungsi secara alami maka dari kelima unsur itulah lahir tumbuh-tumbuhan. Seperti kita ketahui bahwa tumbuh-tumbuhanlah sebagai bahan dasar makanan hewan dan manusia. Kalau keharmonisan kelima unsur alam itu terganggu maka fungsinya pun juga akan terganggu.
Upacara mecaru ini berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan spiritual kepada umat manusia agar selalu menjaga keharmonisan alam, lingkungan beserta isinya (wawasan semesta alam). Sementara makna upacara mecaru sendiri adalah kewajiban manusia merawat alam yang diumpamakan badan raga Tuhan dalam perwujudan alam semesta beserta isinya.
Begitu banyaknya Tuhan Yang Maha Esa memberikan kemudahan bagi umat manusia agar dipergunakan sebagai mana mesti, namun dari semua itu juga Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) menitipkan alam beserta ini agar tidak  dirusak dan selalu di jaga untuk kelangsungan kehidupan manusia.
Dari pemaparan diatas mengandung arti atau makna yang yang tidak ternilai harganya tentang keberadaan alam semesta dan masa/kala/waktu. Jika kita merusak alam semesta beserta isinya saat ini pada waktu/masa atau kala nya nanti kita juga akan dibinasakan oleh alam semesta lewat musibah/bencana yang tidak ada habisnya.

Makna Caru, Segehan dan Tawur

Banten yang berfungsi sebagai badan adalah banten ayaban. Sedangkan bante yang berfungsi sebagai kaki atau suku adalah Banten yang berada dipanggungan yang letaknya dijaba. Adapun Banten Caru merupakan simbol dari perut. Kemudian berdasarkan lapisan yang menyusun tubuh manusia yakni: Badan Kasar atau Sthula Sarira yang terdiri dari Panca Maha Bhuta, Badan Astral atau Suksma Sarira yang terdiri dari Alam Pikiran (Citta, Budhi, Manah, Ahamkara, atau Sattwam Rajas Tamas) serta Sang Hyang Atman sebagai sumber kehidupan. Jika lapisan ini dikaitkan dengan keberadan bebanten, maka banten yang mewakili Panca Maha Butha ini adalah banten yang suguhan seperti: banten soda atau ajuman, rayunan perangkatan dan sebagainya. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai penguatan yang dijabarkan dalam berbagai bentuk pengharapan dan cita-cita adalah banten sebagai Suksma Sarira seperti banten Peras, Penyeneng, Pengambyan, Dapetan, Sesayut dan sebagainya. Sedangkan banten yang berfungsi sebagai pengurip atau pemberi jiwa seperti Banten Daksina, Banten Guru, Banten Lingga adalah merupakan simbol atman. Banten sebagai Warna Rupaning Ida Bhatara dapat dimaknai sebagai suatu bentuk pendalaman Sraddha terhadap Hyang Widhi. Mengingat Beliau yang bersifat Nirguna, Suksma, Gaib, dan bersifat Rahasia, tentu sirat yang demikian itu sulit untuk diketahui lebih-lebih untuk dipahami. Oleh karenanya untuk memudahkan komunikasi dalam konteks bhakti maka Beliau yang bersifat Niskala itu dapat dipuja dalam wujud Sakala dengan memakai berbagai sarana, salah satunya adalah Banten. Adapun Banten yang memiliki kedudukan sebagai perwujudan Hyang Widhi adalah banten-banten yang berfungsi sebagai Lingga atau Linggih Bhatara seperti: Daksina Tapakan (Linggih), Banten Catur, Banten Lingga, Peras, Penyeneng, Bebangkit, Pula Gembal, Banten Guru dan sebagainya. Banten sebagai Anda Bhuvana dapat dimaknai bahwa banten tersebut merupakan replica dari alam semesta ini yang mengandung suatu tuntunan agar umat manusia mencintai alam beserta isinya. Sesuai ajaran Weda, bahwa Tuhan ini tidak hanya berstana pada bhuvana alit, Beliau juga berstana pada bhuvana agung anguriping sarwaning tumuwuh. Sehingga dalam pembuatan banten itu dipergunakanlah seluruh isi alam sebagai perwujudan dari alam ini. Adapun banten sebagai lambang alam semesta ini adalah: Daksina, Suci, Bebangkit, Pula Gembal, Tanam Tuwuh dan sebagainya.**
Mecaru (upacara Byakala) adalah bagian dari upacara Bhuta Yadnya (mungkin dapat disebut sebagai danhyangan dalam bhs jawa) sebagai salah satu bentuk usaha untuk menetralisir kekuatan alam semesta ) Panca Maha Bhuta.

Mecaru, dilihat dari tingkat kebutuhannya terbagi dalam:
Nista ~ untuk keperluan kecil, dalam lingkup keluarga tanpa ada peristiwa yang sifatnya khusus (kematian dalam keluarga, melanggar adat dll)
Madya ~ selain dilakukan dalam lingkungan kekerabatan/banjar (biasanya dalam wujud tawur kesanga, juga wajib dilakukan dalam keluarga dalam kondisi khusus, pembangunan merajan juga memerlukan caru jenis madya
Utama ~ dilakukan secara menyeluruh oleh segenap umat Hindu (bangsa) Indonesia

Biasanya ayam berumbun (tri warna?) digunakan sebagai pelengkap panca sata, urutan penempatan caru (madya) panca sata adalah sebagai berikut:
ayam putih timur
ayam merah/biing selatan
ayam putih siungan barat
ayam hitam/selem utara
ayam brumbun tengah

Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya : korban (binatang), sedangkan ‘Car‘ dalam bahasa Sanskrit artinya ‘keseimbangan/keharmonisan’. Jika dirangkaikan, maka dapat diartikan : Caru adalah korban (binatang) untuk memohon keseimbangan dan keharmonisan.
‘Keseimbangan/keharmonisan’ yang dimaksud adalah terwujudnya ‘Trihita Karana’ yakni keseimbangan dan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), sesama manusia (pawongan), dan dengan alam semesta (palemahan).
Bila salah satu atau lebih unsur-unsur keseimbangan dan keharmonisan itu terganggu, misalnya : pelanggaran dharma/dosa, atau merusak parahyangan (gamia-gamana, salah timpal, mitra ngalang, dll), perkelahian, huru-hara yang merusak pawongan, atau bencana alam, kebakaran dll yang merusak palemahan, patut diadakan pecaruan.Kenapa dalam pecaruan dikorbankan binatang ? Binatang terutama adalah binatang peliharaan/kesayangan manusia, karena pada mulanya, justru manusia yang dikorbankan. Jadi kemudian berkembang bahwa manusia digantikan binatang peliharaan.Terlebih dulu perlu kiranya dijelaskan batasan-batasan yang disebut segehan, caru, maupun tawur:

Segehan
Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya tidak mengganggu.
Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang masuk bahkan ke perempatan jalan.
Bahan utamanya adalah nasi berwarna beberapa kepal.
Yang umum segehan: putih dan kuning.
Dalam Lontar Carcaning Caru, penggunaan ekasata (kurban dengan seekor ayam yang berbulu lima jenis warna, di Bali disebut ayam brumbun, yakni: ada unsur putih, kuning, merah, hitam, dan campuran keempat warna tadi) sampai dengan pancasata (kurban dengan lima ekor ayam masing-masing dengan bulu berbeda, yakni unsur putih, kuning, merah, hitam, dan campuran keempatnya, sehingga akhirnya juga menjadi lima warna) ini masih digolongkan segehan **khusus untuk kelengkapan piodalan saja, sehingga memiliki fungsi sebagai runtutan proses piodalan (ayaban atau tatakan piodalan) yang memilki kekuatan sampai datang piodalan berikutnya.
Caru
Sedangkan pancasanak sampai dengan pancakelud dalam lontar Carcaning Caru tersebut mulai digolongkan sebagai caru yang berfungsi sebagai pengharmonis atau penetral buwana agung (alam semesta), di mana caru ini bisa dikaitkan dengan proses pemlaspas maupun pangenteg linggihan pada tingkatan menengah (madya).
Usia caru ini 10-20 tahun, tergantung tempat upacara.
Penyelenggaraan caru juga dapat dilaksanakan manakala ada kondisi kadurmanggalan dibutuhkan proses pengharmonisan dengan caru sehingga lingkungan alam kembali stabil.

Tawur
Adapun yang digolongkan tawur dimulai dari tingkatan balik sumpah sampai dengan marebu bumi—sesuai dengan yang tersurat dalam lontar Bhama Kertih digolongkan sebagai upacara besar (utama) yang diselenggarakan pada pura-pura besar.
Tawur ini memiliki fungsi sebagai pengharmonis buwana agung (alam semesta).
Adapun tawur ini memiliki kekuatan mulai dari 30 tahun, 100 tahun (untuk eka dasa rudra), dan 1000 tahun untuk marebu bumi.
Adapun tawur dilaksanakan pada tingkatan utama, baik sebagai pangenteg linggih maupun upacara-upacara rutin yang sudah ditentukan oleh aturan sastra atau rontal pada berbagai pura besar di Bali. Tawur ini memiliki makna sebagai pamarisuddha jagat pada tingkatan kabupaten/kota, provinsi, maupun negara.

Kembali terusik ingin tahu apakah yang dimaksud caru, segehan dan tawur dalam suatu upacara…….sekali lagi saya mengetes kesaktian “bli google” dan melalui sebuah blog, rasa ingin tahu saya terjawab.

Pengertian Banten Caru, Banten Caru, BANTEN dalam lontar Yajna Prakrti memiliki tiga arti sebagai simbol ritual yang sakral. Dalam lontar tersebut banten disebutkan: Sahananing Bebanten Pinaka Raganta Tuwi, Pinaka Warna Rupaning Ida Bhattara, Pinaka anda Bhuvana. Dalam lontar ini ada tiga hal yang dibahasakan dalam wujud lambang oleh banten yaitu: “Pinaka Raganta Tuwi” artinya banten itu merupakan perwujudan dari kita sebagai manusia. “Pinaka Warna Rupaning Ida Bhatara” artinya banten merupakan perwujudan dari manifestasi (prabhawa) Ida Hyang Widhi. Dan “Pinaka Andha Bhuvana” artinya banten merupakan refleksi dari wujud alam semesta atau Bhuvana Agung. Memaknai banten sebagai Raganta Tuwi ini dapat dijabarkan berdasarkan pembagian dari tubuh manusia seperti Ulu atau Kepala (Utama Angga), Badan (Madhyama Angga), Kaki atau Suku (Nistama Angga). Jika dihubungkan dengan Tri Angga ini maka banten yang memiliki fungsi sebagai ulu adalah banten yang berada di Sanggar Surya maupun Sanggar Tawang.

Putra Sesana

Tirtayatra

Dharmayatra / Tirtayatra yaitu perjalanan suci menuju ke tempat – tempat suci untuk mendapatkan Tirta Amerta atau Air Kehidupan atau secara bahasa mudahnya yaitu mencarai Ketenangan lahir bathin. Dharmayatra / Tirtayatra bagi umat Hindu di Indonesia melaksanakan Dharmayatra/Tirtayatra tidak harus ke India, namun dapat dilaksanakan dimana-mana, yang penting dengan ketulusan hati, kejernihan pikiran, keikhlasan dan tumbuh dari hati nurani yang suci, maka perjalanan suci tersebut pasti berhasil. Karena dalam Sarasamuscaya menyebutkan bahwa melaksanakan Tirtayatra/Dharmayatra dengan hati yang tulus ikhlas adalah melebihi dari pelaksanaan Yadnya.

Tirtayatra/Dharmayatra ke Bharata Warsa (INDIA), bagi umat Hindu, adalah merupakan bentuk napak tilas ke tempat lahirnya agama Hindu, serta banyaknya tempat-tempat suci yang selalu disebut-sebut dalam japa dan mantram para Pendeta di Bali, seperti Gangga, Yamuna, Saraswati dan lain-lainnya, sehingga melaksanakan Tirtayatra/Dharmayatra ke India juga perlu untuk mendapatkan fabriasi dari tempat-tempat suci yang sangat kuno, sambil menyelusuri sejarah kelahiran Agama Hindu, serta melihat dari dekat kehidupan keagamaan Hindu di tempat asalnya, sehingga bagi umat Hindu Indonesia akan mendapatkan perbandingan, sehingga wawasan kita akan lebih luas.

India adalah sebuah negara diantara dua peradaban yaitu disisi lain sangat modern dan disisi lainnya sangat tradisional yang hanya dapat disaksikan di negara ini saja. Oleh karena itu kita akan dihadapkan dalam dunia yang benar-benar memang berbeda dari dunia lainnya. Kita bagaikan berpijak dalam dua peradaban yang berbeda, namun apabila kita menghayati dengan perasaan dan bukan dengan emosi kita akan mendapatkan suatu kenikmatan dan pelajaran yang sangat berharga. Itulah Bharata Warsa yang dihadirkan oleh Wangsa Kuru yang juga merupakan tempat lahirnya Agama Hindu.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Hari Raya Galungan dan Kuningan semakin dekat. Galungan yang jatuhnya setiap Budha Kliwon wuku Dunggulan, dibulan ini akan jatuh tepat pada minggu kedua. Begitu juga hari Raya Kuningan, yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan juga jatuhnya tepat 10 hari setelah hari raya Galungan.

Tapi tahukah Anda makna hari raya Galungan dan Kuningan?

MAKNA Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan dimaknai kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan aDharma (Keburukan), dimana pas Budha Kliwon wuku Dunggulan kita merayakan dan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan YME).

Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.

Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Dari penjelasan diatas, apakah masih kurang jelas?

MAKNA Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan atau sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan. Pada hari ini umat melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin. Pada hari ini diyakini para Dewa, Bhatara, diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan hanya sampai tengah hari saja. Sesajen untuk Hari Kuningan yang dihaturkan di palinggih utama yaitu tebog, canang meraka, pasucian, canang burat wangi. Di palinggih yang lebih kecil yaitu nasi selangi, canang meraka, pasucian, dan canang burat wangi. Di kamar suci (tempat membuat sesajen/paruman) menghaturkan pengambeyan, dapetan berisi nasi kuning, lauk pauk dan daging bebek. Di palinggih semua bangunan (pelangkiran) diisi gantung-gantungan, tamiang, dan kolem. Untuk setiap rumah tangga membuat dapetan, berisi sesayut prayascita luwih nasi kuning dengan lauk daging bebek (atau ayam). Tebog berisi nasi kuning, lauk-pauk ikan laut, telur dadar, dan wayang-wayangan dari bahan pepaya (atau timun). Tebog tersebut memaki dasar taledan yang berisi ketupat nasi 2 buah, sampiannya disebut kepet-kepetan. Jika tidak bisa membuat tebog, bisa diganti dengan piring.

Sesayut Prayascita Luwih : dasarnya kulit sesayut, berisi tulung agung (alasnya berupa tamas) atasnya seperti cili. Bagian tengahnya diisi nasi, lauk-pauk, di atasnya diisi tumpeng yang ditancapkan bunga teratai putih, kelilingi dengan nasi kecil-kecil sebanyak 11 buah, tulung kecil 11 buah, peras kecil, pesucian, panyeneng, ketupat kukur 11 buah, ketupat gelatik, 11 tulung kecil, kewangen 11 pasucian, panyeneng, buah kelapa gading yang muda (bungkak), lis bebuu, sampian nagasari, canang burat wangi berisi aneka kue dan buah. Sesajen ini dapat juga dipakai untuk sesajen Odalan, Dewa Yadnya, Resi Yadnya dan Manusa Yadnya.

Beberapa perlengkapan Hari Kuningan yang khas yaitu: Endongan sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya. Kolem sebagai simbol tempat peristirahatan hyang Widhi, para Dewa dan leluhur kita.

Pada hari Rabu, Kliwon, wuku Pahang, disebut dengan hari Pegat Wakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu sesayut Dirgayusa, panyeneng, tatebus kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan-Kuningan selama 42 hari, terhitung sejak hari Sugimanek Jawa. (Iloveblue)

Jadi inti dari makna hari raya kuningan adalah memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin kepada para Dewa, Bhatara, dan para Pitara.

makna hari raya galungan dan kuningan, arti galungan dan kuningan, arti kuningan, makna galungan dan kuningan, arti hari raya galungan dan kuningan, makna hari raya galungan, pengertian hari raya galungan, hari raya galungan dan kuningan, apa yang dimaksud dengan hari raya galungan dan k, makna hari rayagalu, pelaksanaan hari raya galungan, Makna dari hari raya galungan dan kuningan, makna dari galungan dan kuningan, kuningan hari ini, jelaskan hari raya galungan, gambar kata hariraya kuningan, Arti hari raya kuningan di bali, arti hari galungan, Apa yang pengertian hari raya galungan, pengertian hari raya kuningan

Sejarah Hari Raya Nyepi

Sejarah Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu di dunia.

Makna Hari Raya Nyepi
Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap). yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Saka, kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, fasilitas umum hanya rumah sakit saja yang buka.

Upacara sebelum hari Nyepi
Ada beberapa upacara yang diadakan sebelum dan sesudah Hari Raya Nyepi , yaitu:

Upacara Melasti
Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, dihari ini, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di Pura di arak ke tempat tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.

Upacara Bhuta Yajna
Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala ( Raksasa Jahat ) dalam bahasa bali nya sebut ogoh ogoh, Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Upacara ini dilakukan di depan pekarangan , perempatan jalan, alun-alun maupun lapangan,lalu ogoh ogoh yang menggambarakan buta kala ini yang diusung dan di arak secara beramai ramai oleh masyarakat dengan membawa obor di iringi tetabuhan dari kampung kekampung, upacara ini kira kira mulai di laksanakan dari petang hari jam enam sore sampai paling lambat jam dua belas malam, setelah upacara ini selesai ogoh ogoh tersebut di bakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan Saat hari raya Nyepi, seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan catur brata penyepian.

Ada empat catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan :
Amati Geni: Tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.

Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.

Amati Lelungan: Tidak berpergian melainkan mawas diri,sejenak merenung diri tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin , hari ini dan akan datang.

Amati Lelanguan: Tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusat.

Pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, selama (24) jam.

Upacara setelah Nyepi
Upacara Hari Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi berakhirnya ( brata Nyepi ). Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai tahun baru Caka dengan hal hal baru yang fositif,baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat, sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi Menurut tradisi, pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditasi dan bersembahyang, serta menyimpulkan menilai kualitas pribadi diri sendiri.

Di hari ini pula umat Hindu khususnya mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendekatan rohani yang telah dicapai, dan sudahkah lebih mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Seluruh kegiatan upacara upacara tersebut di atas masih terus dilaksanakan, diadakan dan dilestarikan secara turun menurun di seluruh kabupaten kota Bali hingga saat ini dan menjadi salah satu daya tarik adat budaya yang tidak ternilai harganya baik di mata wisatawan domestik maupun manca negara.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk mawas diri, merenung sejenak dengan apa yang telah kita perbuat. Dimasa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan tidak lupa selalu bersykur dengan apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta Bagi anda yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas yang begitu padat ada baik nya anda meluangkan waktu sejenak keluar dari hiruk pikuk tersebut dan datang ke Bali sekedar introspeksi diri bahwa dalam kehidupan ini mempunyai terkaitan antara satu dan lain nya dan tidak lupa menyaksikan keadaan di Bali saat hari raya Nyepi akan terasa bedanya.

Mana yang Benar, Back to Veda atau Back to Dharma

Gede Agus Budi Adnyana

Ada sebuah kalimat yang sering sekali terdengar dan diucapkan oleh sebagian besar masyarakat intelektual Hindu, yakni back to Veda. Mungkin berarti kembali ke Veda, dan seruan ini adalah baik. Namun kalimat itu sering kali ditujukan kepada tata cara beragama Hindu di Bali. Saya sendiri kerap kali mendapatkan kalimat itu, ketika saya melakukan ritual persembahan banten. Hingga terakhir kalinya, ketika sedang ngewayang lemah, dalam rangka piodalan di Pura Puseh, seorang sahabat yang merupakan intelektual Hindu menyatakan kepada saya: seharusnya Anda back to Veda, dan upacara Veda tidak ada menggunakan wayang kulit.

Kalimat back to Veda, mungkin didapat dari membaca buku-buku Hindu dari berbagai macam guru parampara. Saya memahami hal itu, namun arogansi sahabat saya ini, terlalu tinggi. Setiap kali upacara agama ala Hindu Bali, dia selalu mengkritik dan menyatakan back to Veda. Nah, sekarang kalimat positif ini malah menjadi sebuah ambiguitas yang justru secara tidak langsung menyatakan bahwa apa yang dilakukan agama Hindu di Bali, tidak berdasarkan Veda.

Pengertian pertama adalah kembali kepada Veda. Apa pun bentuk tattwa, etika dan upacara kembali ke Veda. Ini saya setuju. Pengertian ke dua, adalah dengan dilayangkan kalimat itu, seolah-olah apa yang dijalankan agama Hindu di Bali, tidak berdasarkan Veda. Atau sudah pernah sesuai Veda, namun melenceng kemudian, dan mengundang prihatin kalangan intelek dan menyerukan untuk kembali ke Veda. Sekedar paham saja, UUD 1945 anggap saja Veda. Seluruh umat Hindu nyungsung Veda, dan demikian juga seluruh Indonesia sungkem pada UUD 45.

Tetapi, di setiap daerah, ada PP dan Perda yang berbeda satu sama lain. Perda Aceh dan Bali, atau Jabar dan Kaltim, tentu berbeda, sesuai dengan kondisi, serta situasi daerah bersangkutan. Demikian juga dengan Acara Hindu di Bali, akan berbeda dengan India. Tetapi seluruh umat Hindu sungkem pada Veda. Masalah persembahan itu ada daging panggangnya, jangan dipermasalahkan. Sebab dalam Reg Veda sendiri dinyatakan.
Yat te gatrad angina pacyamanad
Abhi sulam nihatasyavadhavati
Ma tad bhumyam a srisan ma trnesu
Devebhyas tad usadbhyo ratam astu

“Apa yang menetes dari daging panggang yang ada di atas panggangan, jangan dibiarkan tumpah di tanah atau di atas rumput. Persembahkanlah itu semuanya kepada para Dewa”. (Reg Veda Samhita. I. 162. 11)

Nah, agar lebih mudah memahami, Sruti, Smrti, Sila, Acara dan Atmanastuti, adalah urutannya. Ketika Acara berbeda, maka merujuk pada Sila (Keputusan para Brahmana). Ketika Sila berbeda, maka masuk ke Smrti dan apa pun yang bertentangan, Srutilah yang menjadi acuan utamanya. Kitab Reg Veda adalah kitab Sruti, jadi persembahan dengan daging sudah berlandaskan Veda.

Kemudian masalah wayang, itu diatur dalam indik-indik yang kita kenal dengan nama Mahayu Dewa (lontar disalin dan diterjemahkan secara pribadi). Itu sebagai seni sakral jenis Wali, pengiring upacara, dan disinilah terlihat Hindu sebagai agama yang estetik. Disamping itu juga sebagai sebuah media penyebaran ajaran Dharma. Maka janganlah menyatakan bahwa upacara dengan diiringi oleh wayang lemah, tidak berlandaskan Veda.

Kemudian nyanyian Wirama di Jawa dan Bali, untuk lebih mudahnya, saya akan paparkan hal berikut. Biasanya metrum jenis ini jumlah suku katanya adalah 32 suku kata. Kemudian dalam satu pada (baitnya) terdiri dari 4 baris. Anustup ini pun memiliki beberapa jenis varian, tergantung dari jumlah suku katanya. Adapun jenis tersebut yakni: (1) Anustup jumlah suku katanya 32 (8+8+8+8); (2) Mahapada-Pankti jumlah suku katanya 31 (5+5+5+5+5+6); (3) Krti jumlah suku katanya 32 (12+12+8); (4) Pipilikamadhya jumlah suku katanya 32 (12+8+12); (5) Kavirat jumlah suku katanya 30 (9+12+9); (6) Nastarupi jumlah suku katanya 32 (9+10+13); (7) Virat jumlah suku katanya 30 (10+10+10); (8) Virat kedua jumlah suku katanya 33 (11+11+11).

Mantra dalam kitab Reg Veda Samhita, biasanya lebih banyak menggunakan metrum ini pada mandala V, mandala IV, IX dan juga mandala VII.

Brhati

Metrum ini terdiri dari 36 suku kata, dan dalam beberapa mantra jenis ini sering diklasifikasikan kembali menjadi sembilan jenis, yakni. (a) Brhati pertama suku katanya 36 (9+9+9+9); (b) Brhati ke dua suku katanya 36 (8+8+12+8); (c) Purastad-Brhati jumlah suku katanya 36 (12+8+8+8); (d) Sarini jumlah suku katanya 36 (9+12+8+8); (e) Uparistad-Brhati suku katanya 36 (8+8+8+12); (f) Vistara-Brhati suku katanya 36 (8+10+10+8); (g) Urdhva-Brhati suku katanya 36 (12+12+12); (h) Pipilika-Brhati suku katanya 34 (13+8+13); (i) Visama-Brhati suku katanya 36 ( 9+8+11+8).

Jenis di atas sangat lumrah kita temukan dalam kakawin yang dikumandangkan dan berlaku fungsional di Bali, seperti Visama, Sarini, Vistara. Tidak mungkin leluhur kita membuat sebuah kakawin dengan cemerlang demikian tanpa membaca Veda. Lalu dimana letak tidak pahamnya agama Hindu Bali dengan Veda? Meskipun bahasa yang dipergunakan adalah Sansekerta Archipelago, namun tetap merujuk pada Veda.
Lalu ketika tudingan back to Veda terus menusuk tata cara beragama Hindu di Bali, apakah ini berarti umat Hindu di Bali tidak berdasarkan Veda. Saya jawab dengan tegas, bahwa Hindu di Bali adalah Hindu dengan berpijak pada Veda. Alangkah bijaksananya, jika kita tidak mengindiakan Bali, atau membalikan India. Tidak elok juga rasanya, ketika datang ke Pura, seluruh krama menggunakan Dotti dan meniadakan bija atau pamor di Bali. Tidak etis juga ketika semua bhakta harus datang ke Mandir di Kedaranatha menggunakan topeng Siddhakarya saat odalan.

Jadi Hindu adalah air yang mengalir jernih dengan sangat mempesona. Jangan membatasi keuniversalan Hindu hanya pada satu daerah atau negara saja. Bukankah orang yang terpelajar adalah orang yang bisa menghargai dan melestarikan warisan nenek moyangnya dulu? Sebaiknya back to Veda disampaikan pada para pemabuk di jalan atau para pengedar ganja dan terroris, bukan pada jero mangku dan penekun mistsime Bali. Lalu, kalimat mana yang harus kita sering dengarkan? Kalimat back to Dharma. Itu jawabannya.

Majalah Hindu Raditya

Mengatasi Masalah Kehidupan

PERJALANAN hidup dan kehidupan setiap orang tidak berjalan dengan mulus dan lurus. Bagaikan melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lainnya, jalan yang dilewati tidak mungkin lurus dan mulus. Terkadang jalan tersebut rusak, terkadang menanjak atau menurun, terkadang lancar atau macet. Demikianlah warna-warni kehidupan ini.

Semua orang pasti pernah mengalami masa-masa yang menyenangkan dan membahagiakan. Lulus ujian, mendapat pekerjaan, promosi jabatan, naik gaji, bertemu pasangan hidup, dan sebagainya. Namun di sisi lain, semua orang pasti mempunyai masalah kehidupannya masing-masing. Memang demikian kenyataan dari kehidupan ini.

Semua orang tidak mengharapkan masalah dalam perjalanan hidupnya. Semua orang berharap agar masalahnya segera berakhir, selesai. Sehingga kehidupan yang dijalankan akan lebih tenang dan tenteram. Namun banyak juga yang seakan-akan memasuki lorong gelap, masalah kehidupan datang silih berganti. Bak kata pepatah; sudah jatuh tertimpa tangga.

Bagaimana menghadapi masalah kehidupan tersebut? Dua puluh enam abad silam, Buddha telah menjelaskan tentang hidup dan kehidupan serta ajaran kebenaran lainnya. Buddha menjelaskan apa adanya, tanpa menutup-nutupi kenyataan yang ada. Buddha menjelaskan kondisi sesungguhnya dan kehidupan ini, penyebab segala masalah yang ada, dan cara untuk mengatasi sehingga bisa mengakhiri masalah.

Hidup ini diwarnai dengan perubahan terus-menerus, anicca, tidak kekal pada semua kehidupan yang berkondisi. Perubahan ini akan menimbulkan kesedihan, isak tangis, duka, dan seterusnya. Semua ini karena tidak ada inti atau yang disebut aku. Inilah caranya kehidupan yang sebenarnya.

Buddha juga menjelaskan bahwa kehidupan setiap makhluk tidak bisa dilepaskan dari hukum kamma. Setiap makhluk, termasuk diri kita, terakhir dari kamma kita sendiri dan berhubungan dengan kamma kita sendiri. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini tidak lepas dari akibat perbuatan yang sudah kita lakukan sebelumnya. Ketika kehidupan menyenangkan, mungkin kita sedang memetik buah kamma baik. Sebaliknya, ketika kehidupan tidak menenangkan, mungkin kita sedang memetik buah kamma buruk.

Hampir semua orang mengetahui tentang hukum tersebut. Banyak orang yang mendiskusikan dalam kehidupan. Hukum kesunyataan; yang tidak lapuk oleh waktu, berlaku kapan saja dan di mana saja serta pada setiap makhluk di alam kehidupan. Namun, ketika masalah datang dalam kehidupan, apakah kita masih ingat dengan hukum tersebut?

Banyak orang yang merasa mempunyai masalah dalam hidup akan berusaha untuk menghilangkan masalahnya dengan berbagai cara. Ada orang yang berusaha mencari bantuan dari keluarga atau kawan dekat. Ada orang yang meminta bantuan kepada makhluk yang tidak terlihat dengan berkunjung ke tempat yang dianggap keramat, berdoa di tempat tersebut atau minta petunjuk lainnya. Ada pula yang mencari paranormal, dukun, orang pintar, dan seterusnya. Pada prinsipnya, apa pun yang dilakukan, mempunyai tujuan yang sama; agar masalahnya segera berakhir.

Sejak zaman dahulu, orang berusaha dengan berbagai cara mengatasi masalahnya dengan cara-cara yang lebih singkat dan mudah. Padahal semua cara tersebut belum tentu dapat mengatasi masalah Anda. Tidak ada tempat bagi kita untuk bisa bersembunyi atau bebas dari akibat perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Semuanya pasti akan kita terima, sekarang atau di waktu mendatang.

Dhamma telah mengajarkan kita untuk mengatasi akibat perbuatan buruk yang muncul dengan lebih banyak melakukan perbuatan baik, sehingga ”rasa” perbuatan buruk melemah. Bagikan sesendok garam yang dimasukkan ke dalam segelas air, akan membuat air terasa asin. Bila air yang ada seluas danau, maka sesendok garam tidak akan membuat air danau menjadi asin.

Ketika kehidupan terasa berat jalan terasa berliku dan naik-turun, tetaplah pada jalan Dhamma dengan melakukan lebih banyak perbuatan baik dan berusaha untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Semoga kamma baik yang Anda lakukan dapat memberikan kemudahan dan kebahagiaan dalam hidup. (Dhana Putra) BP