Pelaksanaan Hari Raya Nyepi Umat Hindu

Oleh Ahmad Prajoko

H ari raya suci Umat Hindu yang umum dirayakan adalah : Nyepi, Galungan, piodalan, Sarasvati puja, Sivaratri puja dan sebagainya. Diantara pelaksanaan hari raya suci tersebut yang paling menonjol adalah hari raya Nyepi jatuhnya dalam periode waktu satu tahun sekali tepatnya pada tahun baru saka. Pada saat ini matahari menuju garis lintang utara, saat Uttarayana yang disebut juga Devayana yakni waktu yang baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa. Sehari sebelum perayaan hari raya Nyepi dilengkapi dengan upacara Tawur (Bhuta Yajna) yaitu hari Tilem Chaitra dengan ketentuannya dari lontar Sang Hyang Aji Swamandala yang menyatakan apabila melaksanakan tawur hendaknya jangan mencari hari lain selain Tilem bulan Chaitra.

Rangkaian perayaan hari raya Nyepi dimulai dengan acara Melasti, kemudian sehari sebelum hari raya Nyepi dilangsungkan upacara Bhuta Yajna, dan sebagai hari penutup dilaksanakan Ngembak Agni sehari setelah hari raya Nyepi. Keseluruhan kegiatan ini dipusatkan di Pura Desa Puseh, dihadapan Tuhan Purusa atau Sri Visnu, dan Deva Brahma. Sebagai penyembah dalam kesadaran Krsna atas karunia sang guru kerohanian kita diberi penglihatan rohani dapat melihat pemandangan secara terang betapa agungnya kemulyaan Sri Visnu dengan nama lain Yajnapati, Tuhan penikmat dan tujuan akhir dari segala kurban suci bagi seluruh penghuni alam jagat raya.

Upacara Melasti
Sebelum pelaksanaan Melasti, semua para deva (arca atau pratima) dari setiap pura dalam wilayah lingkungan kota atau desa diiring berkumpul di Pura Desa Puseh. Para deva satu-persatu berdatangan setelah lebih terdahulu bersujud menghadap Meru, Sri Visnu, kemudian distanakan berdampingan satu sama lain dalam satu bangunan memanjang yang disebut sebagai Balai Panjang atau Balai Agung. Keesokan harinya upacara Melasti dilangsungkan, Tuhan Sri Visnu dan para deva diiringi bersama-sama menuju laut atau ke mata air terdekat yang dianggap suci tergantung daerah masing-masing. Upacara Melasti tidak lain adalah upacara penyucian, prayascita. Dalam lontar Sang Hyang Aji Swamandala disebutkan : “Untuk melenyapkan penderitaan masyarakat dari keterikatan dunia material,” sedangkan lontar Sundarigama menyatakan; “Untuk memperoleh air suci kehidupan di tengah-tengah lautan.” Air suci ini berasal dari muara sungai-sungai suci di India khususnya sungai Gangga.

Dalam Srimad Bhagavatam skanda sembilan disebutkan Raja Bhagiratha melakukan pertapaan agar air Gangga turun ke bumi, kemudian memohon kepada ibu Gangga membebaskan leluhurnya. Ibu Gangga tersembur dari kaki padma Tuhan Sri Visnu, Beliau dapat membebaskan seseorang dari ikatan material. Nampak nyata bahwa siapapun yang secara teratur menyembah Ibu Gangga semata-mata dengan mandi di airnya dapat memelihara kesehatan dengan sangat baik dan perlahan-lahan menjadi penyembah Tuhan. Mandi air Gangga dipermaklumkan dalam semua susastra Veda, dan orang yang mengambil manfaat tentu sepenuhnya dibebaskan dari reaksi dosa.

Seusai acara Melasti, pada suatu daerah desa tertentu sebelum Sri Visnu dan para deva menuju Pura Desa Puseh terlebih dahulu diiring (dituntun) ke pasar mengikuti acara mepasaran di hadapan Pura Melanting dimana berstana Devi Sri, Devi Laksmi, Devi Keberuntungan. Sekembalinya para deva dari acara mepasaran setelah terlebih dahulu menghadap Sri Visnu, akhirnya para deva berstana di Balai Agung. Sementara Sri Visnu berstana di Meru dan Deva Brahma berstana pada bangunan Gedong di sebelah Meru. Acara berstana ini disebut Nyejer dan berlangsung sampai selesai acara Bhuta Yajna, sehari menjelang hari raya Nyepi, pada sore hari.

Selama beberapa hari seluruh warga dan adat setempat melakukan puja, mempersembahkan sesajen atau persembahan yang disebut prani. Pada saat ini pula umat memohon tirta Amrta air suci kehidupan untuk kesejahteraan dirinya, semua makhluk, dan alam semesta. Melalui acara Nyejer terkandung pula permohonan umat kepada Sri Visnu dan para deva untuk menyaksikan upacara Bhuta Yajna yang dilakukan oleh umatnya.

Upacara Bhuta Yajna  (Tawur Kesanga)
Sehari sebelum hari raya Nyepi adalah hari terakhir dari serangkaian upacara di Pura Desa Puseh tersebut, tepatnya pada hari Tilem Chaitra (Kesanga) dilangsungkan upacara Bhuta Yajna yang dikenal dengan Pengerupukan yang bertujuan untuk membina hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sri Visnu, manusia dengan sesama makhluk ciptaan-Nya serta manusia dengan alam lingkungan tempatnya hidup.

Dalam Bhagawadgita 4.8 Sri Krsna bersabda : Paritranaya sadhunam vinasaya ca duksrtam dharma-samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge.

Untuk menyelamatkan orang saleh, membinasakan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip dharma. Aku sendiri muncul pada setiap zaman.

Tentang Bhuta Yajna ini di dalam Agastya Parwa dinyatakan Bhuta Yajna adalah Tawur untuk kesejahteraan makhluk. Dalam hubungannya dengan hari raya Nyepi, wujud upacara Bhuta Yajna lebih dikenal Tawur Kesanga yang dilihat dari tingkat penyelenggaraannya dari tingkat yang paling besar : seratus tahun sekali disebut Ekadasa Rudra, setiap sepuluh tahun disebut Panca Wali Krama dan setiap tahun sekali disebut Tawur Kesanga.

Upacara Hari Raya Nyepi
Menurut keputusan Seminar Kesatuan Tapsir terhadap Aspek-spek Agama Hindu tentang Hari Raya Nyepi (1988) bahwa Pelaksanaan Hari Raya Nyepi di Indonesia, pada hakekatnya merupakan penyucian bhuwana agung dan bhuwana alit (makro dan mikrokosmos) untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir bathin (jagadhita dan moksa) terbinanya kehidupan yang berlandaskan satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan sundaram (keharmonisan/keindahan).

Sesuai dengan hakekat Hari Raya Nyepi di atas maka umat Hindu wajib melakukan tapa, yoga, dan semadi. Brata tersebut didukung dengan Catur Brata Nyepi sebagai berikut : (1). Amati Agni, tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu, (2). Amati Karya, yaitu tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani, (3). Amati Lelungan, yaitu tidak berpergian melainkan mawas diri, (4). Amati Lelanguan, yaitu tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusatan pikiran terhadap Ida Sang Hyang Widhi. Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” yaitu fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya (24) jam.

Upacara Ngembak Agni
Hari Ngembak Agni jatuh setelah Hari Raya Nyepi sebagai hari berakhirnya brata Nyepi. Hari ini dapat dipergunakan melaksanakan dharma shanti baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat.

Dharma shanti dalam lingkungan keluarga dapat dilakukan berupa kunjung mengunjungi dalam kelurga dalam usaha menyampaikan ucapan selamat tahun baru terbinanya kerukunan dan perdamaian. Sedangkan dharma santi di lingkungan masyarakat hendaknya dilakukan dengan dharma wecana, dharma gita (lagu-lagu keagamaan/kidung kekawin pembacaan sloka), dharma tula (diskusi), persembahyangan, pentas seni yang bernafaskan keagamaan serta memberikan “punia” atau berdarma sosial kepada yang patut menerimanya. ( Sumber )

Iklan

Hakikat Tumpek Landep

Oleh: Jero Mangku Sudiada

“api ched asi papebhyah sarvebhyah
papakrittamah sarvam jnanaplavenai ‘va
vrijinam samtarishyasi”
(BhagavadgitaIV.36)

Walau seandainya engkau paling berdosa
diantara manusia yang memikul dosa
dengan perahu ilmu-pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi

Setiap hari suci agama umat Hindu sesungguhnya tak hanya sekadar rerahinan rutin yang mesti dirayakan. Namun, didalamnya ada nilai filosofis yang penting dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Tumpek Landep, misalnya, memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran.

Setiap enam bulan sekali umat diingatkan untuk melakukan evaluasi apakah pikiran sudah selalu dijernihkan (disucikan) atau diasah agar tajam? Sebab, dengan pikiran yang jernih dan tajam, umat menjadi lebih cerdas, lebih jernih ketika harus melakukan analisis, lebih tepat menentukan keputusan dan sebagainya.

Lewat perayaan Tumpek Landep itu umat diingatkan agar selalu menggunakan pikiran yang tajam sebagai tali kendali kehidupan. Misalnya, ketika umat memerlukan sarana untuk memudahkan hidup, seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, pikiran yang tajam itu mesti dijadikan kendali. Keinginan mesti mampu dikendalikan oleh pikiran. Dengan demikian keinginan memiliki benda-benda itu tidak berdasarkan atas nafsu serakah, gengsi, apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tidak benar.

Semua benda tersebut mestinya hanya difungsikan untuk menguatkan hidup, bukan sebaliknya, justru memberatkan hidup. Dulu, keris dan tombak serta senjata tajam lainnyalah yang digunakan sebagai sarana atau senjata untuk menegakkan kebenaran, kini sarana untuk memudahkan hidup dan menemukan kebenaran itu sudah beragam, seperti kendaraan, mesin dan sebagainya.

Sehingga pada saat Tumpek Landep diupacarai dengan berbagai upakara seperti: sesayut jayeng perang dan sesayut pasupati, dengan maksud untuk memuja Tuhan, dan lebih mendekatkan konsep atau nilai filosofi yang terkandung dalam Tumpek Landep.

Landep = Lancip/ Tajam. Kata Landep dalam Tumpek Landep memiliki makna lancip atau tajam. Sehingga secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut dulunya difungsikan sebagai senjata hidup untuk menegakkan kebenaran. Dalam Tumpek Landep benda-benda tersebut diupacarai.

Kini, pengertian landep sudah mengalami pelebaran makna. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda yang terbuat dari besi atau baja yang dapat mempermudah hidup manusia, di antaranya sepeda motor, mobil, mesin, komputer, radio dan sebagainya.

Sementara secara konotatif, landep itu memiliki pengertian ketajaman pikiran. Pikiran manusia mesti selalu diasah agar mengalami ketajaman. Ilmu pengetahuanlah alat untuk menajamkan pikiran, sehingga umat mengalami kecerdasan dan mampu menciptakan teknologi.

Dengan ilmu pengetahuan pulalah umat menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu memanfaatkan teknologi itu secara benar atau tepat guna, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan digunakan untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

“tad viddhi pranipatena
paripprasnena sevaya
upadekshyanti te jnanam
jnaninas tattvadarsina”
(BhagavadgitaIV.34)

Belajarlah dengan wujud displin, dengan
bertanya dan dengan kerja berbakti,
guru budiman yang melihat kebenaran akan mengajarkan padamu ilmu budi-pekerti

Sumber: HDNet

Perjalanan Roh/Atman Setelah Kematian

Sebagai mahluk penghuni planet bumi ini, kita semua yakin dan percaya bahwa keberadaan kita ini diciptakan oleh Sang Maha Tunggal yaitu Tuhan. Tuhan sang pencipta alam beserta istrinya disebut dengan berbagai sebutan diantaranya disebut Allah, Yesus, Yahweh, Sanghyang Widhi dan masih banyak lagi sebutan lainnya. Disadari atau tidak penyebutan yang berbeda antara agama yang satu dengan yang lainnya terhadap Yang Maha Khalik tersebut ternyata juga membawa perbedaan terhadap sifat dan ajaran-ajaran dari sang maha khalik itu sehingga memberikan pengaruh yang berbeda pula bagi para penganutnya. Kepercayaan dan keyakinan akan kebenaran ajaran-ajaran yang diwahyukan oleh sang maha khalik tersebut, yang lebih dikenal dengan sebutan agama telah mengkotak-kotakan keberadaan para penganutnya. Pengkotak-kotakan ini terkadang terkesan mengekslusifkan agama yang satu dibandingkan dengan agama yang lainnya.
Di alam nyata mahluk ciptaan Tuhan ini telah dikelompok-kelompokkan kedalam berbagai agama yang ada, bagaimana nasib roh/jiwa/atman manusia setelah kematiannya? apakah juga dikelompok-kelompokkan sebagaimana agama yang dianutnya sewaktu hidup di bumi ini ?

Jawaban atas pertanyaan ini tentunya juga berbeda-beda tergantung dari sudut pandang masing-masing agama ?

Agama-agama rumpun Abrahamik mengelompokan roh/jiwa/atman orang meninggal berdasarkan keyakinannya bukan karena perbuatannya. Perbuatan seseorang tidak menentukan di sorga atau neraka tempat roh/jiwa/atman setelah kematiannya. Sekalipun perbuatan buruk atau penuh dosa sepanjang dia menganut agama itu akan masuk sorga. Sekalipun perbuatan seorang manusia baik, tetapi kalau beragama lain akan masuk neraka.

Hanya melalui Yesus manusia bisa mencapai Bapa di surga Dalam Islam, Nabi Mohamad mengusulkan/menentukan siapa yang masuk sorga atau neraka, Allah hanya menyetujui apa yang diusulkan atau ditentukan oleh Muhamad.

Menurut Hindu, orang masuk sorga, neraka atau bahkan moksah sekalipun adalah karena perbuatannya sendiri. Roh/jiwa/atman seseorang semasa hidup di bumi ini berkelakuan baik atau lebih banyak berbuat kebajikan dibandingkan dengan kejahatan maka roh/jiwa/atman akan masuk sorga dan begitu juga sebaliknya yang berbuat jahat atau kebanyakan berbuat jahat, akan masuk neraka. Hal ini tidak terpengaruh oleh keyakinannya apakah Hindu atau Non Hindu.

Pertanyaan berikutnya adalah : Mungkinkah Tuhan menciptakan sorga yang berbeda-beda bagi setiap pemeluk agama sesuai dengan keinginan pendiri agama itu?

Gambaran sorga dan neraka masing-masing agama juga berbeda beda. Ada agama yang menggambarkan sorga dimana manusia dengan tubuh seperti di dunia hidup bersama-sama Tuhan, sekalipun tidak dirinci apa yang mereka lakukan di sorga. Ada agama yang menggambarkan secara kategoris bahwa di Sorga, para lelaki yang beriman memenuhi kesenangan tubuhnya (makan, minum, seks) secara tak terbatas.

Dalam kepercayaan Hindu yang hidup di sorga maupun neraka hanya jiwa.
Tetapi tempat ini bukan tempat abadi. Sorga dan Neraka sekedar persinggahan sementara bagi atman yang tidak murni karena pengaruh karma wasana. Sorga bersifat sementara.

Bagawad Gita IX: 21 menyatakan : mereka menikmati sorga yang luas, dan ketika buah dari karma baik mereka habis, mereka memasuki dunia yang tidak abadi ini; demikianlah mereka yang mengikuti aturan Weda, mendambakan hasil dari perbuatan mereka, memperoleh lingkaran hidup dan mati (Diterjemahkan dari Bhagawad Gita, Commentary bay Mahatma Gandhi).

Bagi atman yang ketika hidup di dunia banyak berbuat subha karma (berbuat baik) dari pada asubha karma (berbuat tidak baik), mereka akan singgah sementara di sorga. Dan sebaliknya, bagi atman yang ketika hidup banyak berbuat asubha karma (berbuat tidak baik) dari pada subha karmanya (berbuat baik), mereka akan singgah di neraka. Ini semua karena hasil karma mereka masing-masing. Akibat tidak mampu mempertahankan kesucian sang atman yang suci, bagian dari Brahman yang Maha Suci.

Jadi setelah menikmati sorga atau neraka, jiwa bisa kembali lahir ke dunia untuk melanjutkan evolusinya sampai akhirnya mencapai moksa.

Tuhan/Sanghyang Widhi tidak pilih kasih, setiap orang membuat nasibnya sendiri, melalui karma yang mereka lakukan sebelumnya. Karma yang lampau-lah yang menentukan sebagai apa dan peranan apa yang dia terima dalam kelahirannya di dunia ini. Itulah sebabnya yang dilahirkan berbeda-beda. Ada yang jadi Pandita, Rohaniawan, Presiden, Pejabat ABRI maupun Sipil, Pengusaha Sukses/Ekonom, Konglomerat, Petani Sukses dan Kaya Raya, Peternak Sukses, Seniman, ada yang menjadi orang kaya, orang miskin, orang cacat, orang gelandangan dsb. Bahkan yang lebih jauh merosot adalah sebagai binatang dan tumbuhan. Hal ini juga merupakan salah satu motivasi umat Hindu dalam berbuat baik, setidaknya bisa mencapai surga, sehingga reinkarnasinya nanti masih pada manusia yang sempurna dan bernasib baik, dan ada kesempatan mencapai moksa

Tetapi yang penting diingat Sorga Hindu bukanlah sorga dimana manusia memuaskan nafsu badaninya. Karena yang hidup di sorga Hindu hanya jiwa, tanpa badan kasar. Neraka Hindu juga tidak seperti neraka dalam agama lain yang merupakan tempat penyiksaan yang kejam dan abadi terutama bagi mereka yang tidak seiman.

Neraka dalam Weda hanya disebutkan dalam tiga mantra sebagai tempat kegelapan saja, lawan dari sorga yang artinya dunia yang selalu terang.
Berbeda dengan sorga yang ada di dunia spiritual, neraka itu sebetulnya ada di dunia ini dalam bentuk penderitaan. Tetapi penderitaan kita di dunia ini sifatnya konstruktif. Bukan balas dendam dan kekejaman tanpa batas.

Karl Jasper, seorang filsuf Jerman mengatakan penderitaan membuat manusia melakukan refleksi, membuat hidup seseorang semakin dalam dan bermakna. Orang yang tidak pernah menderita (apa mungkin ada ?) hidupnya dangkal. Porselin yang indah dan mahal adalah tanah liat yang telah mengalami penderitaan ; ditumbuk,dibentuk dan dibakar dalam api yang sangat panas. Hasilnya barang seni yang berguna, indah dan tinggi nilainya. Sepotong bambu setelah dilubangi tubuhnya dengan bor panas menjadi seruling yang menghasilkan suara merdu.

Pertanyaan berikutnya adalah :Apakah sorga satu keadaan pengalaman batin atau satu dunia sesungguhnya kemana jiwa yang dibebaskan kembali ?

Kebanyakan Upanisad secara praktis sedikit sekali atau tidak mengandung rincian.

Chandogya (8.5.3) menjelaskannya sebagai satu dunia, ketiga dari dunia ini, didalamnya ada dua danau besar disebut Ara dan Nya. Disana juga ada penampungan air yang lebih kecil yang berisi makanan-jus disebut airammadya, Sp,asavama, sebatang pohon pee-pul dan satu kota disebut Aparajita, disana juga ada satu ruang besar keemasan.

Kausitaki Upanisad (1.3.4 dan 5) memberikan penjelasan yang lebih berwarna dan menambahkan satu sungai Viraja, dua penjaga pintu (Indra dan Prajapati), satu singgasana disebut Vicaksana dan satu kereta yang diberi nama Amitaujas. Lima ratus peri/bidadari menyambut jiwa yang terbebaskan dan memujanya. Keharuman dan rasa Brahma memasukinya pada keadaan yang tepat ketika dia masuk.

Seseorang yang mencapai Brahmaloka tidak akan kembali kepada keberadaan dunia ini (sumber : A Concise Encyclopaedia of Hinduism” oleh Swami Harshananda, Ramakrishna Math, Bangalore, First Edition, April 2008)

Dari penjelasan diatas surga adalah tempat, tetapi dalam dunia rohani, bukan dunia materi. (ini berbeda dengan sorga dan neraka agama-agama rumpun Yahudi, yang merupakan tempat sama seperti dunia ini. Mereka percaya dengan kebangkitan tubuh (materi) maka sorga dan nerakanya juga berupa tempat seperti dunia materi ini, ada tembok batasnya segala, katanya dibuat dari batu bata).

Berapa kilometer jauhnya? (apa mungkin ada yang mengukur jaraknya). Tapi dunia rohani tidak dapat diukur. Ia mungkin saja parallel dengan dunia materi ini. Tapi ia tidak dapat dilihat oleh mata fisik.

Kalau sorga atau neraka itu sifat atau keadaan, artinya surga atau neraka itu ada atau terjadi di dunia ini. Demikian juga moksha ? karena itu tidak ada kehidupan sesudah mati. Masalahnya kapan suatu sifat atau keadaan itu disebut sorga atau neraka ?

Seorang ibu yang mengalami sakit luar biasa waktu melahirkan apakah itu sorga atau neraka ? Seorang teroris yang senang karena telah membunuh ratusan orang, apakah itu sorga atau neraka ?
Nanti setiap orang dapat menentukan sendiri apa yang dia maksud dengan sorga atau neraka menurut kepentingannya sendiri. Manusia sering tidak dapat membedakan senang (preya) dengan bahagia atau yang baik (sreya).
Seorang penjudi senang ketika sedang main judi, tapi apakah itu hal yang baik dan membawa bahagia ?

Kalau sorga atau neraka sifat atau keadaan, lebih banyak menimbulkan pertanyaan dari pada jawaban. Oleh karena itu kita kembali kepada jawaban yang diberikan oleh Upanisad yang merupakan bagian integral dari Weda, yaitu surga dan neraka adalah tempat, tetapi dalam dunia rohani, bukan dunia materi.

Original by http://pangpadetulus.blogspot.com

Tirtayatra

Dharmayatra / Tirtayatra yaitu perjalanan suci menuju ke tempat – tempat suci untuk mendapatkan Tirta Amerta atau Air Kehidupan atau secara bahasa mudahnya yaitu mencarai Ketenangan lahir bathin. Dharmayatra / Tirtayatra bagi umat Hindu di Indonesia melaksanakan Dharmayatra/Tirtayatra tidak harus ke India, namun dapat dilaksanakan dimana-mana, yang penting dengan ketulusan hati, kejernihan pikiran, keikhlasan dan tumbuh dari hati nurani yang suci, maka perjalanan suci tersebut pasti berhasil. Karena dalam Sarasamuscaya menyebutkan bahwa melaksanakan Tirtayatra/Dharmayatra dengan hati yang tulus ikhlas adalah melebihi dari pelaksanaan Yadnya.

Tirtayatra/Dharmayatra ke Bharata Warsa (INDIA), bagi umat Hindu, adalah merupakan bentuk napak tilas ke tempat lahirnya agama Hindu, serta banyaknya tempat-tempat suci yang selalu disebut-sebut dalam japa dan mantram para Pendeta di Bali, seperti Gangga, Yamuna, Saraswati dan lain-lainnya, sehingga melaksanakan Tirtayatra/Dharmayatra ke India juga perlu untuk mendapatkan fabriasi dari tempat-tempat suci yang sangat kuno, sambil menyelusuri sejarah kelahiran Agama Hindu, serta melihat dari dekat kehidupan keagamaan Hindu di tempat asalnya, sehingga bagi umat Hindu Indonesia akan mendapatkan perbandingan, sehingga wawasan kita akan lebih luas.

India adalah sebuah negara diantara dua peradaban yaitu disisi lain sangat modern dan disisi lainnya sangat tradisional yang hanya dapat disaksikan di negara ini saja. Oleh karena itu kita akan dihadapkan dalam dunia yang benar-benar memang berbeda dari dunia lainnya. Kita bagaikan berpijak dalam dua peradaban yang berbeda, namun apabila kita menghayati dengan perasaan dan bukan dengan emosi kita akan mendapatkan suatu kenikmatan dan pelajaran yang sangat berharga. Itulah Bharata Warsa yang dihadirkan oleh Wangsa Kuru yang juga merupakan tempat lahirnya Agama Hindu.

Makna Hari Raya Galungan dan Kuningan

Hari Raya Galungan dan Kuningan semakin dekat. Galungan yang jatuhnya setiap Budha Kliwon wuku Dunggulan, dibulan ini akan jatuh tepat pada minggu kedua. Begitu juga hari Raya Kuningan, yang jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan juga jatuhnya tepat 10 hari setelah hari raya Galungan.

Tapi tahukah Anda makna hari raya Galungan dan Kuningan?

MAKNA Hari Raya Galungan

Hari Raya Galungan dimaknai kemenangan Dharma (Kebaikan) melawan aDharma (Keburukan), dimana pas Budha Kliwon wuku Dunggulan kita merayakan dan menghaturkan puja dan puji syukur kehadapan Ida Sanghyang Widhi Wasa (Tuhan YME).

Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:

Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep

Artinya:

Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.

Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma.

Parisadha Hindu Dharma menyimpulkan, bahwa upacara Galungan mempunyai arti Pawedalan Jagat atau Oton Gumi. Tidak berarti bahwa Gumi/ Jagad ini lahir pada hari Budha Keliwon Dungulan. Melainkan hari itulah yang ditetapkan agar umat Hindu di Bali menghaturkan maha suksemaning idepnya ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi atas terciptanya dunia serta segala isinya. Pada hari itulah umat bersyukur atas karunia Ida Sanghyang Widhi Wasa yang telah berkenan menciptakan segala-galanya di dunia ini.

Dari penjelasan diatas, apakah masih kurang jelas?

MAKNA Hari Raya Kuningan

Hari Raya Kuningan atau sering disebut Tumpek Kuningan jatuh pada hari Sabtu, Kliwon, wuku Kuningan. Pada hari ini umat melakukan pemujaan kepada para Dewa, Pitara untuk memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin. Pada hari ini diyakini para Dewa, Bhatara, diiringi oleh para Pitara turun ke bumi hanya sampai tengah hari saja, sehingga pelaksanaan upacara dan persembahyangan Hari Kuningan hanya sampai tengah hari saja. Sesajen untuk Hari Kuningan yang dihaturkan di palinggih utama yaitu tebog, canang meraka, pasucian, canang burat wangi. Di palinggih yang lebih kecil yaitu nasi selangi, canang meraka, pasucian, dan canang burat wangi. Di kamar suci (tempat membuat sesajen/paruman) menghaturkan pengambeyan, dapetan berisi nasi kuning, lauk pauk dan daging bebek. Di palinggih semua bangunan (pelangkiran) diisi gantung-gantungan, tamiang, dan kolem. Untuk setiap rumah tangga membuat dapetan, berisi sesayut prayascita luwih nasi kuning dengan lauk daging bebek (atau ayam). Tebog berisi nasi kuning, lauk-pauk ikan laut, telur dadar, dan wayang-wayangan dari bahan pepaya (atau timun). Tebog tersebut memaki dasar taledan yang berisi ketupat nasi 2 buah, sampiannya disebut kepet-kepetan. Jika tidak bisa membuat tebog, bisa diganti dengan piring.

Sesayut Prayascita Luwih : dasarnya kulit sesayut, berisi tulung agung (alasnya berupa tamas) atasnya seperti cili. Bagian tengahnya diisi nasi, lauk-pauk, di atasnya diisi tumpeng yang ditancapkan bunga teratai putih, kelilingi dengan nasi kecil-kecil sebanyak 11 buah, tulung kecil 11 buah, peras kecil, pesucian, panyeneng, ketupat kukur 11 buah, ketupat gelatik, 11 tulung kecil, kewangen 11 pasucian, panyeneng, buah kelapa gading yang muda (bungkak), lis bebuu, sampian nagasari, canang burat wangi berisi aneka kue dan buah. Sesajen ini dapat juga dipakai untuk sesajen Odalan, Dewa Yadnya, Resi Yadnya dan Manusa Yadnya.

Beberapa perlengkapan Hari Kuningan yang khas yaitu: Endongan sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya. Kolem sebagai simbol tempat peristirahatan hyang Widhi, para Dewa dan leluhur kita.

Pada hari Rabu, Kliwon, wuku Pahang, disebut dengan hari Pegat Wakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan. Sesajen yang dihaturkan pada hari ini yaitu sesayut Dirgayusa, panyeneng, tatebus kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian berakhirlah semua rangkaian hari raya Galungan-Kuningan selama 42 hari, terhitung sejak hari Sugimanek Jawa. (Iloveblue)

Jadi inti dari makna hari raya kuningan adalah memohon keselamatan, kedirgayusan, perlindungan dan tuntunan lahir-bathin kepada para Dewa, Bhatara, dan para Pitara.

makna hari raya galungan dan kuningan, arti galungan dan kuningan, arti kuningan, makna galungan dan kuningan, arti hari raya galungan dan kuningan, makna hari raya galungan, pengertian hari raya galungan, hari raya galungan dan kuningan, apa yang dimaksud dengan hari raya galungan dan k, makna hari rayagalu, pelaksanaan hari raya galungan, Makna dari hari raya galungan dan kuningan, makna dari galungan dan kuningan, kuningan hari ini, jelaskan hari raya galungan, gambar kata hariraya kuningan, Arti hari raya kuningan di bali, arti hari galungan, Apa yang pengertian hari raya galungan, pengertian hari raya kuningan

Sejarah Hari Raya Nyepi

Sejarah Hari Raya Nyepi
Hari Raya Nyepi merupakan hari raya umat Hindu yang dirayakan setiap Tahun Baru Saka. Dimana pada hari ini umat hindu melakukan amati geni yaitu mengadakan Samadhi pembersihan diri lahir batin. Pembersihan atas segala dosa yang sudah diperbuat selama hidup di dunia dan memohon pada yang Maha Kuasa agar diberikan kekuatan untuk bisa menjalankan kehidupan yang lebih baik dimasa mendatang.

Hari Raya Nyepi jatuh pada hitungan Tilem Kesanga (IX) yang diyakini saat baik untuk mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa dan dipercayai merupakan hari penyucian para dewa yang berada dipusat samudra yang akan datang kedunia dengan membawa air kehidupan (amarta) untuk kesejahteraan manusia dan umat hindu di dunia.

Makna Hari Raya Nyepi
Nyepi asal dari kata sepi (sunyi, senyap). yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan kalender Saka, kira kira dimulai sejak tahun 78 Masehi. Pada Hari Raya Nyepi ini, seluruh umat Hindu di Bali melakukan perenungan diri untuk kembali menjadi manusia manusia yang bersih , suci lahir batin. Oleh karena itu semua aktifitas di Bali ditiadakan, fasilitas umum hanya rumah sakit saja yang buka.

Upacara sebelum hari Nyepi
Ada beberapa upacara yang diadakan sebelum dan sesudah Hari Raya Nyepi , yaitu:

Upacara Melasti
Selang waktu dua tiga hari sebelum Hari Raya Nyepi, diadakan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis, dihari ini, seluruh perlengkapan persembahyang yang ada di Pura di arak ke tempat tempat yang mengalirkan dan mengandung air seperti laut, danau dan sungai, karena laut, danau dan sungai adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa membersihkan dan menyucikan dari segala kotoran yang ada di dalam diri manusia dan alam.

Upacara Bhuta Yajna
Sebelum hari Raya Nyepi diadakan upacara Bhuta Yajna yaitu upacara yang mempunyai makna pengusiran terhadap roh roh jahat dengan membuat hiasan atau patung yang berbentuk atau menggambarkan buta kala ( Raksasa Jahat ) dalam bahasa bali nya sebut ogoh ogoh, Upacara ini dilakukan di setiap rumah, Banjar, Desa, Kecamatan, Kabupaten dan Provinsi. Upacara ini dilakukan di depan pekarangan , perempatan jalan, alun-alun maupun lapangan,lalu ogoh ogoh yang menggambarakan buta kala ini yang diusung dan di arak secara beramai ramai oleh masyarakat dengan membawa obor di iringi tetabuhan dari kampung kekampung, upacara ini kira kira mulai di laksanakan dari petang hari jam enam sore sampai paling lambat jam dua belas malam, setelah upacara ini selesai ogoh ogoh tersebut di bakar, ini semua bermakna bahwa seluruh roh roh jahat yang ada sudah diusir dan dimusnahkan Saat hari raya Nyepi, seluruh umat Hindu yang ada di bali wajibkan melakukan catur brata penyepian.

Ada empat catur brata yang menjadi larangan dan harus di jalankan :
Amati Geni: Tidak menyalakan api serta tidak mengobarkan hawa nafsu.

Amati Karya: Tidak melakukan kegiatan kerja jasmani, melainkan meningkatkan kegiatan menyucikan rohani.

Amati Lelungan: Tidak berpergian melainkan mawas diri,sejenak merenung diri tentang segala sesuatu yang kita lakukan saat kemarin , hari ini dan akan datang.

Amati Lelanguan: Tidak mengobarkan kesenangan melainkan melakukan pemusat.

Pikiran terhadap Sang Hyang Widhi Brata ini mulai dilakukan pada saat matahari “Prabata” saat fajar menyingsing sampai fajar menyingsing kembali keesokan harinya, selama (24) jam.

Upacara setelah Nyepi
Upacara Hari Ngembak Geni berlangsung setelah Hari Raya Nyepi berakhirnya ( brata Nyepi ). Pada esok harinya dipergunakan melaksanakan Dharma Shanty, saling berkunjung dan maaf memaafkan sehingga umat hindu khususnya bisa memulai tahun baru Caka dengan hal hal baru yang fositif,baik di lingkungan keluarga maupun di masyarakat, sehingga terbinanya kerukunan dan perdamaian yang abadi Menurut tradisi, pada hari Nyepi ini semua orang tinggal dirumah untuk melakukan puasa, meditasi dan bersembahyang, serta menyimpulkan menilai kualitas pribadi diri sendiri.

Di hari ini pula umat Hindu khususnya mengevaluasi dirinya, seberapa jauhkah tingkat pendekatan rohani yang telah dicapai, dan sudahkah lebih mengerti pada hakekat tujuan kehidupan di dunia ini. Seluruh kegiatan upacara upacara tersebut di atas masih terus dilaksanakan, diadakan dan dilestarikan secara turun menurun di seluruh kabupaten kota Bali hingga saat ini dan menjadi salah satu daya tarik adat budaya yang tidak ternilai harganya baik di mata wisatawan domestik maupun manca negara.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa makna Nyepi itu sendiri adalah manusia diajarkan untuk mawas diri, merenung sejenak dengan apa yang telah kita perbuat. Dimasa lalu, saat ini dan merencanakan yang lebih baik dimasa yang akan datang dengan tidak lupa selalu bersykur dengan apa yang telah diberikan oleh sang Pencipta Bagi anda yang sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas yang begitu padat ada baik nya anda meluangkan waktu sejenak keluar dari hiruk pikuk tersebut dan datang ke Bali sekedar introspeksi diri bahwa dalam kehidupan ini mempunyai terkaitan antara satu dan lain nya dan tidak lupa menyaksikan keadaan di Bali saat hari raya Nyepi akan terasa bedanya.

Mengatasi Masalah Kehidupan

PERJALANAN hidup dan kehidupan setiap orang tidak berjalan dengan mulus dan lurus. Bagaikan melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lainnya, jalan yang dilewati tidak mungkin lurus dan mulus. Terkadang jalan tersebut rusak, terkadang menanjak atau menurun, terkadang lancar atau macet. Demikianlah warna-warni kehidupan ini.

Semua orang pasti pernah mengalami masa-masa yang menyenangkan dan membahagiakan. Lulus ujian, mendapat pekerjaan, promosi jabatan, naik gaji, bertemu pasangan hidup, dan sebagainya. Namun di sisi lain, semua orang pasti mempunyai masalah kehidupannya masing-masing. Memang demikian kenyataan dari kehidupan ini.

Semua orang tidak mengharapkan masalah dalam perjalanan hidupnya. Semua orang berharap agar masalahnya segera berakhir, selesai. Sehingga kehidupan yang dijalankan akan lebih tenang dan tenteram. Namun banyak juga yang seakan-akan memasuki lorong gelap, masalah kehidupan datang silih berganti. Bak kata pepatah; sudah jatuh tertimpa tangga.

Bagaimana menghadapi masalah kehidupan tersebut? Dua puluh enam abad silam, Buddha telah menjelaskan tentang hidup dan kehidupan serta ajaran kebenaran lainnya. Buddha menjelaskan apa adanya, tanpa menutup-nutupi kenyataan yang ada. Buddha menjelaskan kondisi sesungguhnya dan kehidupan ini, penyebab segala masalah yang ada, dan cara untuk mengatasi sehingga bisa mengakhiri masalah.

Hidup ini diwarnai dengan perubahan terus-menerus, anicca, tidak kekal pada semua kehidupan yang berkondisi. Perubahan ini akan menimbulkan kesedihan, isak tangis, duka, dan seterusnya. Semua ini karena tidak ada inti atau yang disebut aku. Inilah caranya kehidupan yang sebenarnya.

Buddha juga menjelaskan bahwa kehidupan setiap makhluk tidak bisa dilepaskan dari hukum kamma. Setiap makhluk, termasuk diri kita, terakhir dari kamma kita sendiri dan berhubungan dengan kamma kita sendiri. Apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini tidak lepas dari akibat perbuatan yang sudah kita lakukan sebelumnya. Ketika kehidupan menyenangkan, mungkin kita sedang memetik buah kamma baik. Sebaliknya, ketika kehidupan tidak menenangkan, mungkin kita sedang memetik buah kamma buruk.

Hampir semua orang mengetahui tentang hukum tersebut. Banyak orang yang mendiskusikan dalam kehidupan. Hukum kesunyataan; yang tidak lapuk oleh waktu, berlaku kapan saja dan di mana saja serta pada setiap makhluk di alam kehidupan. Namun, ketika masalah datang dalam kehidupan, apakah kita masih ingat dengan hukum tersebut?

Banyak orang yang merasa mempunyai masalah dalam hidup akan berusaha untuk menghilangkan masalahnya dengan berbagai cara. Ada orang yang berusaha mencari bantuan dari keluarga atau kawan dekat. Ada orang yang meminta bantuan kepada makhluk yang tidak terlihat dengan berkunjung ke tempat yang dianggap keramat, berdoa di tempat tersebut atau minta petunjuk lainnya. Ada pula yang mencari paranormal, dukun, orang pintar, dan seterusnya. Pada prinsipnya, apa pun yang dilakukan, mempunyai tujuan yang sama; agar masalahnya segera berakhir.

Sejak zaman dahulu, orang berusaha dengan berbagai cara mengatasi masalahnya dengan cara-cara yang lebih singkat dan mudah. Padahal semua cara tersebut belum tentu dapat mengatasi masalah Anda. Tidak ada tempat bagi kita untuk bisa bersembunyi atau bebas dari akibat perbuatan buruk yang pernah kita lakukan. Semuanya pasti akan kita terima, sekarang atau di waktu mendatang.

Dhamma telah mengajarkan kita untuk mengatasi akibat perbuatan buruk yang muncul dengan lebih banyak melakukan perbuatan baik, sehingga ”rasa” perbuatan buruk melemah. Bagikan sesendok garam yang dimasukkan ke dalam segelas air, akan membuat air terasa asin. Bila air yang ada seluas danau, maka sesendok garam tidak akan membuat air danau menjadi asin.

Ketika kehidupan terasa berat jalan terasa berliku dan naik-turun, tetaplah pada jalan Dhamma dengan melakukan lebih banyak perbuatan baik dan berusaha untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Semoga kamma baik yang Anda lakukan dapat memberikan kemudahan dan kebahagiaan dalam hidup. (Dhana Putra) BP