Diwali/Deepavali

Mengenal Diwali/Deepavali, Salah Satu Hari Raya Terbesar Umat Hindu di India
Terakhir diperbaharui pada 3 November 2013 oleh Candra Wiguna

Diwali atau Deepavali merupakan salah satu hari raya terbesar umat Hindu di India yang dirayakan pada bulan Aswayuja menurut kelender Caka Hindu atau sekitar bulan Oktober-November pada kalender Gregorian. Perayaan ini digelar selama 5 hari berturut-turut dengan menyalakan berbagai cahaya sehingga dikenal sebagai Festival Cahaya. Diwali sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang artinya “barisan cahaya”.

Perayaan Diwali umumnya tidak hanya berlangsung di India tapi juga di seluruh dunia dimana orang-orang keturunan India tinggal, termasuk di Malaysia dan Singapura, dan tidak hanya khusus pada umat Hindu, mereka yang beragama Jainisme dan Sikh juga merayakan festival ini sebagai bagian dari tradisi yang patut dilestarikan.

Makna Perayaan Diwali

Seperti halnya perayaan Galungan di Bali, hari raya Diwali juga dimaknai sebagai perayaan kemenangan kebaikan (dharma) atas kejahatan (adharma), dimana kebaikan dilambangkan dengan cahaya sedangkan kejahatan dilambangkan dengan kegelapan.

Ada beberapa kisah baik dalam Ramayana maupun Mahabharata yang sering dikaitkan dengan perayaan Diwali, diantaranya:

Cerita kembalinya Rama setelah 14 tahun mengalami pengasingan, dimana pada saat itu rakyat Kerajaan Ayodya menyalakan cahaya dari mentega untuk menyambut kedatangannya.
Cerita terbunuhnya seorang yang jahat bernama Narakasura oleh istri Krishna yang bernama Satyabhama pada masa dwapara yuga.
Cerita kembalinya Pandawa setelah mengalami pengasingan selama 12 tahun di Hutan Kamyaka dan 1 tahun penyamaran di Kerajaan Wirata
Khusus bagi penganut Jainisme, perayaan Diwali menjadi sangat penting karena hari ini adalah hari dimulainya tahun Jain, tahun kalander khusus bagi penganut Jainisme.

Kegiatan Diwali

Perayaan Diwali berlangsung selama 5 hari mulai tanggal 28 Aswayuja, namun sebelum perayaan berlangsung umumnya orang-orang sudah melakukan persiapan, mulai dari menyiapkan sumber cahaya (eg: lilin, lentera, dan kembang api), makanan dan kue, hingga membeli pakaian baru. Adapun perayaan yang dilakukan selama 5 hari tersebut adalah: Dhanatrayodashi, Naraka Chaturdashi, Lakshmi Puja, Bali Pratipada dan Govardhan Puja, serta yang terakhir adalah Yama Dwitiya atau Bhaiduj.

Obama Merayakan Diwali
Obama Merayakan Diwali
Pada hari perayaan ini, orang-orang dengan pakaian terbaiknya akan saling berkumpul dan bersilahturahmi untuk memperkuat tali persaudaraan. Mulai menjelang malam orang-orang akan menyalakan api diya dan lentra pun dipasang di setiap depan rumah serta kembang api mulai dinyalakan. Tidak hanya itu orang-orang juga akan saling memberi hadiah satu sama lain serta ada pembagian kue khas India yang bernama mithai.

Di Indonesia sendiri perayaan Diwali kurang begitu dikenal, dalam sejarahnya bahkan tidak pernah ada perayaan semacam ini. Festival yang mirip dan bermakna sama dengan Diwali adalah Galungan, namun tradisi Galungan dihubungkan masyarakat Bali dengan kekalahan Mayadenawa sebagai tokoh jahat atas Dewa Indra. Ini menjadi bukti bahwa Hindu bukan hanya sekedar ritual namun lebih pada pemaknaan konsep yang disesuaikan dengan kultur dan sejarah masyarakatnya.

Iklan

Renungan Galungan dan Kuningan

16 Rentetan Hari Raya Galungan Yang Wajib Kita Tau!!!

1. TUMPEK WARIGA

Jatuh pada hari Saniscara, Kliwon, Wuku Wariga, atau 25 hari sebelum Galungan. Upacara ngerasakin dan ngatagin dilaksanakan untuk memuja Bhatara Sangkara, manifestasi Hyang Widhi, memohon kesuburan tanaman yang berguna bagi kehidupan manusia.

2. ANGGARA KASIH JULUNGWANGI

Hari Anggara, Kliwon, Wuku Julungwangi atau 15 hari sebelum Galungan. Upacara memberi lelabaan kepada watek Butha dengan mecaru alit di Sanggah pamerajan dan Pura, serta mengadakan pembersihan area menjelang tibanya hari Galungan.

3. BUDA PON SUNGSANG

Hari Buda, Pon, Wuku Sungsang atau 7 hari sebelum Galungan. Disebut pula sebagai hari Sugian Pengenten yaitu mulainya Nguncal Balung. Nguncal artinya melepas atau membuang, balung artinya tulang; secara filosofis berarti melepas atau membuang segala kekuatan yang bersifat negatif (adharma).

Oleh karena itu disebut juga sebagai Sugian Pengenten, artinya ngentenin (mengingatkan) agar manusia selalu waspada pada godaan-godaan adharma.

Pada masa nguncal balung yang berlangsung selama 42 hari (sampai Buda Kliwon Paang) adalah dewasa tidak baik untuk: membangun rumah, tempat suci, membeli ternak peliharaan, dan pawiwahan.

4. SUGIAN JAWA

Hari Wraspati, Wage, Wuku Sungsang, atau 6 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian dan kelestarian Bhuwana Agung (alam semesta).

5. SUGIAN BALI

Hari Sukra, Kliwon, Wuku Sungsang, atau 5 hari sebelum Galungan. Memuja Hyang Widhi di Pura, Sanggah Pamerajan dengan Banten pereresik, punjung, canang burat wangi, canang raka, memohon kesucian, dan keselamatan Bhuwana Alit (diri sendiri).

6. PENYEKEBAN

Hari Redite, Paing, Wuku Dungulan, atau 3 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Galungan yang menggoda manusia untuk berbuat adharma. Galung dalam Bahasa Kawi artinya perang; Bhuta Galungan adalah sifat manusia yang ingin berperang atau berkelahi.

Manusia agar menguatkan diri dengan memuja Bhatara Siwa agar dijauhkan dari sifat yang tidak baik itu. Secara simbolis Ibu-ibu memeram buah-buahan dan membuat tape artinya nyekeb (mengungkung/ menguatkan diri).

7. PENYAJAAN

Hari Soma, Pon, Wuku Dungulan, atau 2 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Dungulan yang menggoda manusia lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Dungul dalam Bahasa Kawi artinya takluk; Bhuta Dungulan adalah sifat manusia yang ingin menaklukkan sesama atau sifat ingin menang.

Manusia agar lebih menguatkan diri memuja Bhatara Siwa agar terhindar dari sifat buruk itu. Secara simbolis membuat jaja artinya nyajaang (bersungguh-sungguh membuang sifat dungul).

8. PENAMPAHAN

Hari Anggara, Wage, Wuku Dungulan, atau 1 hari sebelum Galungan. Turunnya Sang Bhuta Amangkurat yang menggoda manusia lebih-lebih kuat lagi untuk berbuat adharma. Amangkurat dalam Bahasa Kawi artinya berkuasa. Bhuta Amangkurat adalah sifat manusia yang ingin berkuasa.

Manusia agar menuntaskan melawan godaan ini dengan memuja Bhatara Siwa serta mengalahkan kekuatan Sang Bhuta Tiga (Bhuta Galungan, Bhuta Dungulan, dan Bhuta Amangkurat).

Secara simbolis memotong babi “nampah celeng” artinya “nampa” atau bersiap menerima kedatangan Sanghyang Dharma. Babi dikenal sebagai simbol tamas (malas) sehingga membunuh babi juga dapat diartikan sebagai menghilangkan sifat-sifat malas manusia.

Sore hari ditancapkanlah penjor lengkap dengan sarana banten pejati yang mengandung simbol “nyujatiang kayun” dan memuja Hyang Maha Meru (bentuk bambu yang melengkung) atas anugerah-Nya berupa kekuatan dharma yang dituangkan dalam Catur Weda di mana masing-masing Weda disimbolkan dalam hiasan penjor sebagai berikut:

lamak simbol Reg Weda,
bakang-bakang simbol Atarwa Weda,
tamiang simbol Sama Weda, dan
sampian simbol Yayur Weda.
Di samping itu penjor juga simbol ucapan terima kasih ke hadapan Hyang Widhi karena sudah dianugerahi kecukupan sandang pangan yang disimbolkan dengan menggantungkan beraneka buah-buahan, umbi-umbian, jajan, dan kain putih kuning.

Pada sandyakala segenap keluarga mabeakala, yaitu upacara pensucian diri untuk menyambut hari raya Galungan.

9. GALUNGAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Dungulan, merupakan perayaan kemenangan manusia melawan bentuk-bentuk adharma terutama yang ada pada dirinya sendiri. Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan memberkati umat manusia. Persembahyangan di Pura, Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas anugrah-Nya itu.

10. MANIS GALUNGAN

Hari Wraspati, Umanis, Wuku Dungulan, 1 hari setelah Galungan, melaksanakan Dharma Santi berupa kunjungan ke keluarga dan kerabat untuk mengucapkan syukur atas kemenangan dharma dan mohon maaf atas kesalahan-kesalahan di masa lalu.

Malam harinya mulai melakukan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga, mohon agar kemenangan dharma dapat dipertahankan pada diri kita seterusnya.

Pemujaan di malam hari selama sembilan malam sejak hari Manis Galungan sampai hari Penampahan Kuningan disebut sebagai persembahyangan Nawa Ratri (nawa = sembilan, ratri = malam) dimulai berturut-turut memuja Bhatara-Bhatara: Iswara, Mahesora, Brahma, Rudra, Mahadewa, Sangkara, Wisnu, Sambu, dan Tri Purusa (Siwa-Sada Siwa-Parama Siwa).

11. PEMARIDAN GURU

Hari Saniscara, Pon, Wuku Dungulan, 3 hari setelah Galungan merupakan hari terakhir Wuku Dungulan meneruskan persembahyangan memuja Dewata Nawa Sangga khususnya Bhatara Brahma.

12. ULIHAN

Hari Redite, Wage, Wuku Kuningan, 4 hari setelah Galungan, Bhatara-Bhatari kembali ke Kahyangan, persembahyangan di Pura atau Sanggah Pamerajan bertujuan mengucapkan terima kasih atas wara nugraha-Nya.

13. PEMACEKAN AGUNG

Hari Soma, Kliwon, Wuku Kuningan, 5 hari setelah Galungan. Melakukan persembahan sajen (caru) kepada para Bhuta agar tidak mengganggu manusia sehingga Trihitakarana dapat terwujud.

14. PENAMPAHAN KUNINGAN

Hari Sukra, Wage, Wuku Kuningan, 9 hari setelah Galungan. Manusia bersiap nampa (menyongsong) hari raya Kuningan. Malam harinya persembahyangan terakhir dalam urutan Dewata Nawa Sanga, yaitu pemujaan kepada Sanghyang Tri Purusha (Sisa, Sada Siwa, Parama Siwa).

15. KUNINGAN

Hari Saniscara, Kliwon, Wuku Kuningan, 10 hari setelah Galungan. Para Bhatara-Bhatari turun dari Kahyangan sampai tengah hari.

Manusia mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi atas wara nugrahanya berupa kekuatan dharma serta mohon agar kita senantiasa dihindarkan dari perbuatan-perbuatan adharma.

Secara simbolis membuat sesajen dengan nasi kuning sebagai pemberitahuan (nguningang) kepada para preti sentana agar mereka mengikuti jejak leluhurnya merayakan rangkaian hari raya Galungan – Kuningan.

Selain itu menggantungkan “tamiang” di Palinggih-palinggih sebagai tameng atau perisai terhadap serangan kekuatan adharma.

16. PEGAT UWAKAN

Hari Buda, Kliwon, Wuku Paang, satu bulan atau 35 hari setelah Galungan, merupakan hari terakhir dari rangkaian Galungan. Pegat artinya berpisah, dan uwak artinya kelalaian. Jadi pegat uwakan artinya jangan lalai melaksanakan dharma dalam kehidupan seterusnya setelah Galungan. Berata-berata nguncal balung berakhir, dan selanjutnya roda kehidupan terlaksana sebagaimana biasa.

Sejarah Perkembangan Agama Hindu

  1. Awal Perkembangan Agama Hindu

Agama Hindu berasal dari India. Untuk mengetahui sejarah perkembangannya haruslah juga dipelajari sejarah perkembangan India meliputi aspek perkembangan penduduk maupun aspek kebudayaannya dari jaman ke jaman. Berdasarkan penelitian usia kitab- kitab Weda, para ahli sampai pada suatu kesimpulan bahwa agama Hindu telah tumbuh dan berkembang pada sekitar 6.000 tahun sebelum tahun Masehi. Sebagai agama tertua, agama Hindu kemudian berkembang ke berbagai wilayah dunia, termasuk Asia Tenggara dan Indonesia.

  1. Penduduk India

Penduduk asli yang mendiami India sekarang bermukim di daerah dataran tinggi Dekkan. Kehidupannya masih sangat sederhana.
Bangsa Dravida berasal dari daerah Asia Tengah (Baltic) masuk ke India dan mendiami daerah sepanjang sungai Sindhu yang subur. Kebudayaan mereka lebih tinggi dari penduduk asli. Bangsa Arya juga berasal dari daerah sekitar Asia Tengah, menyebar memasuki daerah- daerah Iran (Persia), Mesopotamia, dan juga masuk ke daerah Eropa. Yang sampai masuk ke India adalah merupakan bagian dari yang pernah masuk ke Iran. Mereka masuk ke India dalam dua tahap di dua tempat yang berbeda. Pertama mereka masuk di daerah Punjab yaitu daerah lima aliran anak sungai yang disambut dengan peperangan oleh bangsa Dravida yang sudah lebih dulu bermukim di sana. Karena bangsa Arya lebih maju dan lebih kuat, Bangsa Dravida dapat dikalahkan. Tahap kedua Bangsa Arya masuk ke India melalui daerah dua aliran sungai yaitu lembah sungai Gangga dan lembah sungai Yamuna, daerah ini dikenal dengan nama daerah Doab. Kedatangan mereka tidak disambut peperangan, bahkan kemudian terjadi percampuran melalui perkawinan. Bangsa- bangsa inilah yang menjadi nenek moyang bangsa India sekarang.

  1. Jaman Weda

Telah diketahui bahwa bangsa yang datang kemudian di India adalah bangsa Arya yang mendiami dua tempat yaitu di Punjab dan Doab. Di kedua daerah tersebut mereka berkembang dan mengembangkan peradabannya. Dikatakan bahwa orang- orang Aryalah yang menerima wahyu Weda. Wahyu- wahyu Weda ini tidak turun sekaligus, melainkan dalam jangka waktu yang agak lama, dan juga tidak diwahyukan di satu tempat saja. Penerima wahyu disebut Maha Resi, diterima melalui pendengaran, dan oleh sebab itu wahyu Weda disebut Sruti (sru= pendengaran). Kurun waktu turunnya wahyu- wahyu Weda itulah yang disebut jaman Weda dan ajaran Weda inilah yang kemudian tersebar ke berbagai penjuru dunia.

  1. Penyebaran Agama Hindu

Dalam suatu penggalian di Mesir ditemukan sebuah inskripsi yang diketahui berangka tahun 1200 SM. Isinya adalah perjanjian antara Ramses II dengan Hittites. Dalam perjanjian ini “Maitra Waruna” yaitu gelar manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa menurut agama Hindu yang disebut- sebut dalam Weda dianggap sebagai saksi.
Gurun Sahara yang terdapat di Afrika Utara menurut penelitian Geologi adalah bekas lautan yang sudah mengering. Dalam bahasa Sanskerta Sagara artinya laut; dan nama Sahara adalah perkembangan dari kata Sagara. Diketahui pula bahwa penduduk yang hidup di sekelilingnya pada jaman dahulu berhubungan erat dengan Raja Kosala yang beragama Hindu dari India.
Penduduk asli Mexico mengenal dan merayakan hari raya Rama Sinta, yang bertepatan dengan perayaan Nawa Ratri di India. Dari hasil penggalian di daerah itu didapatkan patung- patung Ganesa yang erat hubungannya dengan agama Hindu. Di samping itu penduduk purba negeri tersebut adalah orang- orang Astika (Aztec), yaitu orang- orang yang meyakini ajaran- ajaran Weda. Kata Astika ini adalah istilah yang sangat dekat sekali hubungannya dengan “Aztec” yaitu nama penduduk asli daerah itu, sebagaimana dikenal namanya sekarang ini.
Penduduk asli Peru mempunyai hari raya tahunan yang dirayakan pada saat- saat matahari berada pada jarak terjauh dari katulistiwa dan penduduk asli ini disebut Inca. Kata “Inca” berasal dari kata “Ina” dalam bahasa Sanskerta yang berarti “matahari” dan memang orang- orang Inca adalah pemuja Surya.
Uraian tentang Aswameda Yadnya (korban kuda) dalam Purana yaitu salah satu Smrti Hindu menyatakan bahwa Raja Sagara terbakar menjadi abu oleh Resi Kapila. Putra- putra raja ini berusaha ke Patala loka (negeri di balik bumi= Amerika di balik India) dalam usaha korban kuda itu. Karena Maha Resi Kapila yang sedang bertapa di hutan (Aranya) terganggu, lalu marah dan membakar semua putra- putra raja Sagara sehingga menjadi abu. Pengertian Patala loka adalah negeri di balik India yaitu Amerika. Sedangkan nama Kapila Aranya dihubungkan dengan nama California dan di sana terdapat taman gunung abu (Ash Mountain Park).
Di lingkungan suku- suku penduduk asli Australia ada suatu jenis tarian tertentu yang dilukiskan sebagai tarian Siwa (Siwa Dance). Tarian itu dibawakan oleh penari- penarinya dengan memakai tanda “Tri Kuta” atau tanda mata ketiga pada dahinya. Tanda- tanda yang sugestif ini jelas menunjukkan bahwa di negeri itu telah mengenal kebudayaan yang dibawa oleh agama Hindu.

  1. Agama Hindu di Indonesia

Agama Hindu masuk ke Indonesia diperkirakan pada awal Tarikh Masehi, dibawa oleh para Musafir dari India antara lain: Maha Resi Agastya yang di Jawa terkenal dengan sebutan Batara Guru atau Dwipayana dan juga para Musafir dari Tiongkok yakni Musafir Budha Pahyien. Kedua tokoh besar ini mengadakan perjalanan keliling Nusantara menyebarkan Dharma. Bukti- bukti peninggalan ini sangat banyak berupa sisa- sisa kerajaan Hindu seperti Kerajaan Tarumanegara dengan rajanya Purnawarman di Jawa Barat.
Kerajaan Kutai dengan rajanya Mulawarman di Kalimantan Timur, Kerajaan Mataram Hindu di Jawa Tengah dengan rajanya Sanjaya, Kerajaan Singosari dengan rajanya Kertanegara dan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur, begitu juga kerajaan Watu Renggong di Bali, Kerajaan Udayana, dan masih banyak lagi peninggalan Hindu tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Raja- raja Hindu ini dengan para alim ulamanya sangat besar pengaruhnya dalam perkembangan agama, seni dan budaya, serta kesusasteraan pada masa itu. Sebagai contoh candi- candi yang bertebaran di Jawa di antaranya Candi Prambanan, Borobudur, Penataran, dan lain- lain, pura- pura di Bali dan Lombok, Yupa- yupa di Kalimantan, maupun arca- arca dan prasasti yang ditemukan hampir di seluruh Nusantara ini adalah bukti- bukti nyata sampai saat ini. Kesusasteraan Ramayana, Mahabarata, Arjuna Wiwaha, Sutasoma (karangan Empu Tantular yang di dalamnya terdapat sloka “Bhinneka Tunggal Ika tan hana dharma mangrwa”) adalah merupakan warisan- warisan yang sangat luhur bagi umat selanjutnya. Agama adalah sangat menentukan corak kehidupan masyarakat waktu itu maupun sistem pemerintahan yang berlaku; hal ini dapat dilihat pada sekelumit perkembangan kerajaan Majapahit.
Raden Wijaya sebagai pendiri kerajaan Majapahit menerapkan sistem keagamaan secara dominan yang mewarnai kehidupan masyarakatnya. Sewaktu meninggal, oleh pewarisnya dibuatkan pedharman atau dicandikan pada candi Sumber Jati di Blitar Selatan sebagai Bhatara Siwa dan yang kedua didharmakan atau dicandikan pada candi Antapura di daerah Mojokerto sebagai Amoga Sidhi (Budha). Raja Jayanegara sebagai Raja Majapahit kedua setelah meninggal didharmakan atau dicandikan di Sila Petak sebagai Bhatara Wisnu sedangkan di Candi Sukalila sebagai Buddha.
Maha Patih Gajah Mada adalah seorang Patih Majapahit sewaktu pemerintahan Tri Buana Tungga Dewi dan Hayam Wuruk. Ia adalah seorang patih yang sangat tekun dan bijaksana dalam menegakkan dharma, sehingga hal ini sangat berpengaruh dalam pemerintahan Sri Baginda. Semenjak itu raja Gayatri memerintahkan kepada putranya Hayam Wuruk supaya benar- benar melaksanakan upacara Sradha. Adapun upacara Sradha pada waktu itu yang paling terkenal adalah mendharmakan atau mencandikan para leluhur atau raja- raja yang telah meninggal dunia (amoring Acintya). Upacara ini disebut Sradha yang dilaksanakan dengan Dharma yang harinya pun telah dihitung sejak meninggal tiga hari, tujuh hari, dan seterusnya sampai seribu hari dan tiga ribu hari. Hal ini sampai sekarang di Jawa masih berjalan yang disebut dengan istilah Sradha, Sradangan yang pada akhirnya disebut Nyadran.
Memperhatikan perkembangan agama Hindu yang mewarnai kebudayaan serta seni sastra di Indonesia di mana raja- rajanya sebagai pimpinan memperlakukan sama terhadap dua agama yang ada yakni Siwa dan Budha, jelas merupakan pengejawantahan toleransi beragama atau kerukunan antar agama yang dianut oleh rakyatnya dan berjalan sangat baik. Ini jelas merupakan nilai- nilai luhur yang diwariskan kepada umat beragama yang ada pada saat sekarang. Nilai- nilai luhur ini bukan hanya mewarnai pada waktu lampau, tetapi pada masa kini pun masih tetap merupakan nilai- nilai positif bagi pewaris- pewarisnya khususnya umat yang meyakini agama Hindu yang tertuang dalam ajaran agama dengan Panca Sradhanya.
Kendatipun agama Hindu sudah masuk di Indonesia pada permulaan Tarikh Masehi dan berkembang dari pulau ke pulau namun pulau Bali baru mendapat perhatian mulai abad ke-8 oleh pendeta- pendeta Hindu di antaranya adalah Empu Markandeya yang berAsrama di wilayah Gunung Raung daerah Basuki Jawa Timur. Beliaulah yang memimpin ekspedisi pertama ke pulau Bali sebagai penyebar agama Hindu dengan membawa pengikut sebanyak ± 400 orang. Ekspedisi pertama ini mengalami kegagalan.
Setelah persiapan matang ekspedisi kedua dilaksanakan dengan pengikut ± 2.000 orang dan akhirnya ekspedisi ini sukses dengan gemilang. Adapun hutan yang pertama dibuka adalah Taro di wilayah Payangan Gianyar dan beliau mendirikan sebuah pura tempat pemujaan di desa Taro. Pura ini diberi nama Pura Murwa yang berarti permulaan. Dari daerah ini beliau mengembangkan wilayah menuju pangkal gunung Agung di wilayah Besakih sekarang, dan menemukan mata air yang diberi nama Sindhya. Begitulah permulaan pemujaan Pura Besakih yang mula- mula disebut Pura Basuki.
Dari sini beliau menyusuri wilayah makin ke timur sampai di Gunung Sraya wilayah Kabupaten Karangasem, selanjutnya beliau mendirikan tempat suci di sebuah Gunung Lempuyang dengan nama Pura Silawanayangsari, akhirnya beliau bermukim mengadakan Pasraman di wilayah Lempuyang dan oleh pengikutnya beliau diberi gelar Bhatara Geni Jaya Sakti. Ini adalah sebagai tonggak perkembangan agama Hindu di pulau Bali.
Berdasarkan prasasti di Bukit Kintamani tahun 802 Saka (880 Masehi) dan prasasti Blanjong di desa Sanur tahun 836 Saka (914 Masehi) daerah Bali diperintah oleh raja- raja Warmadewa sebagai raja pertama bernama Kesariwarmadewa. Letak kerajaannya di daerah Pejeng dan ibukotanya bernama Singamandawa. Raja- raja berikutnya kurang terkenal, baru setelah raja keenam yang bernama Dharma Udayana dengan permaisurinya Mahendradata dari Jawa Timur dan didampingi oleh Pendeta Kerajaan Empu Kuturan yang juga menjabat sebagai Mahapatih maka kerajaan ini sangat terkenal, baik dalam hubungan politik, pemerintahan, agama, kebudayaan, sastra, dan irigasi semua dibangun. Mulai saat inilah dibangun Pura Kahyangan Tiga (Desa, Dalem, Puseh), Sad Kahyangan yaitu Pura Lempuyang, Besakih, Bukit Pangelengan, Uluwatu, Batukaru, Gua Lawah, Sistem irigasi yang terkenal dengan Subak, sistem kemasyarakatan, Sanggar/ Merajan, Kamulan/Kawitan dikembangkan dengan sangat baik.
Sewaktu kerajaan Majapahit runtuh keadaan di Bali sangat tenang karena tidak ada pergolakan agama. Pada saat itulah datang seorang Empu dari Jawa yang bernama Empu Dwijendra dengan pengikutnya yang mengembangkan dan membawa pembaharuan agama Hindu di Bali. Dewasa ini, terutama sejak jaman Orde Baru, perkembangan Agama Hindu makin maju dan mulai mendapat perhatian serta pembinaan yang lebih teratur.

Wangsa, Warna, kasta

Sehabis Pesamuhan Agung di Mataram Lombok bulan Oktober 2002, yang menghasilkan tiga bhisama al. masalah Catur Warna, Pak Nyoman Suwanda, Ketum Pengurus Harian PHDI meminta kepada saya untuk menulis satu ulasan tentang Bhisama ini. Beliau berpesan agar tulisan itu menitik beratkan bahwa Bhisama ini dimaksudkan untuk meluruskan soal kasta dan sama sekali tidak menghilangkan Wangsa. Waktu itu saya menyanggupi. Tetapi janji ini belum dapat saya penuhi karena kesibukan saya dan juga terus terang saya kurang berminat.

Setelah membaca posting Pak Arya Wiraraja masalah kesulitan mendaftarkan nama anaknya di Capil Badung, saya baru sadar masalah ini ternyata cukup komplek.

Ada tiga hal yang jalin menjalin dalam soal ini, yaitu kasta, warna dan wangsa, yang oleh kebanyakan orang dianggap satu dan sama. Padahal masing-masing sebenarnya berbeda. Oleh karena itu kita perlu mendapat gambaran secara ringkas mengenai hal ini.

Untuk yang pertama dan kedua, kasta dan warna, sudah banyak didiskusikan. Sedangkan yang ketiga, wangsa, tampaknya belum atau sedikit sekali dibahas.

Wangsa di Bali secara umum adalah pengelompokan orang berdasarkan keturunan (kawitan). Hampir sama dengan trah di Jawa (orang Jawa jarang memiliki nama trah, kecuali Kolopaking dan Arumbinang), marga di Batak (Panjaitan, Pangabean, Siregar dll) atau Manado (Tambayong, Mawengkang, Kawilarang, dll).

Bedanya, kalau marga di Batak dan Manado tidak mengandung unsur hierarkis, di Bali wangsa itu, karena latar belakang sejarah dan adat mengandung unsur pelapisan sosial yang memiliki hak-hak khusus berdasarkan keturunan, misalnya soal jabatan tertentu (sulinggih), soal bahasa (sor singgih), soal kewajiban adat (ngayah waktu suka duka), Karena memiliki hak-hak khusus berdasarkan keturunan, ia sama dengan kasta.

Bhisama Catur Warna, tidak menghapus wangsa! Keberadaan wangsa tetap diakui. Siapa yang dapat mengingkari garis keturunan seseorang? Misalnya,- maaf Pak dijadikan contoh – Pak Oka Nila tetap syah memakai gelar Ida Bagus, dan tetap sah menamai putranya Ida Bagus atau Ida Ayu. Tetapi Pak Oka Nila tidak memiliki hak-hak khusus sehubungan namanya itu. Pak Oka Nila memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan umat yang lain, misalnya soal ngayah di pura, soal suka duka. Nanti kalau sudah jadi Pedanda, baru Pak Oka Nila berwarna Brahmana. Nah, pada waktu jadi Pedanda ini baru Pak Oka Nila mendapat hak-hak khusus terkait dengan jabatan sebagai Pedanda.

Sekarang kembali ke soal Perda yang mengatur nama keluarga itu.

Di kalangan orang Batak, pemakaian nama marga ada aturannya. Ada pemasok (suplier) ATK di kator saya, orang keturunan Cina yang memakai nama marga Batak – katakanlah “Lubis”. Kebetulan manajer pengadaan kantor saya bermarga Lubis. Lalu manajer ini tanya pada suplier itu “dapat nama Lubis dari mana?” Pemasok ini menjelaskan dia mendapat nama Lubis karena diberikan oleh marga Lubis di Medan melalui suatu upacara adat.

Lalu ada teman saya yang orang Batak asli. Nama orang tuanya Ritonga, tapi dia pakai nama Siregar. Oleh Siregar yang lain ia ditanya, dapat Siregar dari mana? Oleh Siregar yang Ritonga dijelaskan bahwa ayah dari kakeknya dari pihak bapak bermarga Siregar. Sekalipin kakek dan ayahnya bermarga Ritonga, tetapi karena ayah kakeknya (kumpinya) bermarga Siregar, maka ia berhak memakai nama Siregar ataupun Ritonga.

Seorang teman saya orang Bali, perwira TNI, yang lama berdinas di Medan, dan karena berjasa membina umat Hindu Karo, diberi gelar marga Sinulingga, melalui satu upacara adat dengan memotong kerbau.

Pada suku bangsa Batak orang tidak sembarangan memakai nama marga orang lain. Harus mendapat ijin dari pemilik marga melalui satu upacara adat. Aturan ini tidak dipermasalahkan, karena marga di sana tidak mengandung kesan tinggi rendah.

Saya tidak tahu bagaimana dengan di Manado. Cukup banyak kawan-kawan warga keturunan Cina yang memakai nama marga Manado. Apakah melalui upacara tertentu atau tidak, saya belum punya informasi.

Mengenai wangsa di Bali, masalahnya agak berbeda karena latar belakangnya. Kalau melihat sejarah baik di Bali maupun di India, wangsa di bawah Brahmana sebetulnya cair, artinya bisa berobah, naik atau turun dalam pengertian tradisionalnya. Di India banyak dinasti yang semula digolongkan sebagai “sudra” ketika sudah menjadi raja, dengan bantuan Brahmana, merobah sisilahnya menjadi Ksatrya (menurut konsep warna memang benar, tapi kemudian gelar itu diteruskan juga kepada anak keturunannya).

Di Bali juga demikian. Ada satu klan yang kawitannya bergelar (dalam arti adat Bali) Sang. Kemudian keturunannya ada yang tetap bergelar Sang, ada Ngakan, ada I Dewa, Anak Agung, I Gusti, I Wayan dstnya.

Raja-raja Bali jaman dahulu bisa menaikkan (Wisuda) dan menurunkan (Petita) gelar seseorang atau keluarganya, berdasarkan jasa atau kesalahan yang dilakukan oleh yang bersangkutan kepada raja. Perobahan wangsa juga terjadi karena satu keluarga “nyinebang wangsa” (menyembunyikan marganya). Istri saya dari Klungkung, namanya Luh Ayu. Tapi kalau lagi sembahyang di pura kawitannya di Karangasem ia dipanggil Gusti Ayu. Konon leluhurnya di Karangasem yang keturunan Arya, dijaman dahulu kala transmigrasi ke Klungkung. Tapi di Klungkung mereka tidak memakai gelar aryanya. Entah karena alasan apa?

Pada tahun 60an keluarga besar istri saya ingin kembali memakai gelar leluhurnya, kembali menjadi I Gusti. Tapi ayah dari istri saya tidak setuju. Yang penting bukan gelar itu, tapi kualitas pribadi. Demikian katanya. Padahal penyesuaian gelar ini, sudah biasa terjadi di Bali. Di Denpasar, Tabanan, Singaraja sudah normal I Gusti jadi AA, lalu Cokorda. Di daerah saya ada I Dewa jadi AA. Lalu yang AA menambah gelar Ide sehingga menjadi Ide AA. Sekarang ada juga Ide I Dewa. Keluarga saya juga sudah banyak yang memakai nama I Dewa. Karena konon leluhurnya adalah I Dewa Anggungan, yang karena memberontak kepada raja di petita wangsanya. Yang berasal dari Dewa kembali ke Dewa. Begitu mungkin alasannya.

Saya sendiri tidak tertarik untuk yang begini-begini. Karena tidak ada manfaat apa-apa.

Feodalisme dan rasa minder.

Karena latar belakang sejarahnya memang benar bahwa wangsa ini mengandung unsur feodalisme. Unsur feodalisme inilah yang hendak dihapuskan oleh bhisama Catur Warna, berdasarkan sastra agama. Maksudnya kira-kira agar konsep wangsa itu sama dengan konsep trah orang Jawa, marga dari orang Batak atau Manado.

Di kalangan orang Batak, hampir tidak ada orang yang mengganti marganya. Misalnya orang dengan marga Panjaitan tidak akan mengganti marganya menjadi Panggabean. Karena Panjaitan dan Panggabean sama dan sederajat. Merobah marga tidak akan menaikkan derajat. Bahkan bisa dianggap penghinaan terhadap keluarga besar dan leluhurnya.

Orang Batak mengangkat derajat dirinya dan juga marganya dengan berupaya keras untuk mencapai tiga hal, yaitu harta, pangkat dan keturunan.

Dalam kaitan ini di Bali ada satu klan yang cukup menarik perhatian, yaitu klan atau wangsa Pande. Saya sangat jarang, hampir tidak pernah mendengar warga klan ini ada yang merobah namanya. Mereka bangga sekali dengan klannya. Sekarang banyak dari mereka yang memakai Pande sebagai nama depan, seperti Pande Made Latra, Pande Putu Yuni, dll. Menurut sejarahnya, kawitan wangsa Pande dan Ida Bagus itu kakak beradik.

Saya kira wangsa atau gotra yang lain bisa meniru hal ini. Misalnya gotra Pasek memakai nama Pasek di depan namanya. Misalnya Pasek Putu Setia. Pasek artinya sama dengan Paku di Jawa, adalah gelar Ksatrya dalem. Jika warga Pasek memiliki kebanggaan terhadap gotra atau wangsanya, maka Dr.Made Titib tidak perlu memberi nama Ida Ayu untuk anak-anaknya. Nanti kalau anak ini sukses dan punya nama, misalnya jadi Miss World, yang diharumkan justru wangsa Ida Ayu/Ida Bagus itu, bukan wangsa Pasek. (Saya dengar Yustine Pasek, Miss World yang dari Panama sudah diangkat sebagai warga kehormatan Gotra Pasek?).

Dari sisi lain, merobah nama dengan nama warga lain, terkesan minder terhadap wangsa sendiri. Dan supaya PD perlu didongkrak dengan gelar gelur ini.

Demikian sekilas latar belakang dari nama-nama wangsa atau gelar ini. Mudah-mudahan ini memberikan tambahan informasi untuk membahas soal Perda itu. Perda sebagai produk hukum Pemda bersama DPRD memang perlu diangkat lagi ke DPRD sekarang supaya dikaji dan diperdebatkan : apakah ada alasan rasional atau tidak?

Om Santi, Santi, Santi Om

NPP.

PS. Setelah membaca posting ini, Pak MGM bertanya : “Apakah saya tidak boleh menamakan anak saya Gusti?” Tidak ada larangan untuk itu. Dalam buku “Pedanda, Kyai dan Pastor” saya ada menulis dua artikel mengenai hal ini. Untuk kesederajatan bisa ditempuh tiga jalan. Pertama menghilangkan nama-nama keluarga. Putu Wijaya, pengarang dan dramawan terkenal, tidak memakai nama Gusti Ngurahnya. Mendiang Pak Mantra, mantan Gubernur Bali, jarang memakai nama IBnya. Tetapi ketika Putu Wijaya punya anak laki-laki dia memberi nama Gusti Ngurah pada anaknya itu. Begitu juga Pak Mantra tetap memberi nama IB/IA kepada putra-putrinya.

Jalan kedua adalah, mengikuti apa yang disebut oleh Dr. Arvind Sharma, guru besar perbandingan agama di Universitas MacGill, Kanada, Sanskritisasi. Konkritnya begini. Seorang teman saya namanya dulu I Made Lagas. Ia dan keluarganya sering sakit-sakitan. Ia lalu “mepinunas”, hasilnya ia dikatakan melupakan kawitannya. Ia lalu bertanya kesana kemari mencari kawitan, ketemu bahwa leluhurnya berasal dari Singaraja dan keturunan Gusti. Ia kembali ke desa asalnya dan diterima oleh keluarganya dan merobah namanya jadi I Gusti Made Lagas. Di Singaraja, Tabanan dan Denpasar, Gusti bisa jadi AA. Ipar saya yang Gusti Ngurah dan Gusti Ayu di Gianyar, kalau ke Denpasar dipanggil AA. Seperti saya tulis di atas, Dewa, Ngakan, Sang sudah banyak yang menamai anak-anaknya AA. Bila semua orang Bali bergelar AA, maka akan terjadi kesederatajan.

Tapi ini cara pertama maupun kedua, mungkin sulit di laksanakan di Bali. Oleh karena itu, dalam tulisan di atas saya usulkan agar orang Bali memandang Wangsa itu sebagaimana orang Batak atau Manado memandang marganya. Mungkin ini lebih mudah. Ini jalan ketiga atau the third way menurut Antony Gidden? .

Dari sisi lain, merobah nama dengan nama warga lain, terkesan minder terhadap wangsa sendiri. Dan supaya PD perlu didongkrak dengan gelar gelur ini.

Demikian sekilas latar belakang dari nama-nama wangsa atau gelar ini. Mudah-mudahan ini memberikan tambahan informasi untuk membahas soal Perda itu. Perda sebagai produk hukum Pemda bersama DPRD memang perlu diangkat lagi ke DPRD sekarang supaya dikaji dan diperdebatkan : apakah ada alasan rasional atau tidak?

Lontar Raja Purana

Bersumber dari buku terbitan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi Daerah Tingkat I Bali tahun 1986 diterjemahkan oleh Drs. I Wayan Warna, Ida Bagus Gede Murdha B.A., Drs. I Nyoman Sujana, Ida Bagus Maka, Ida Bagus Sunu, I Dewa Gede Catra, Drs. I Gede Sura. Editor: Drs. I Wayan Warna, Ida Bagus Gede Murdha B.A. Isinya tentang cara pengaturan upacara yang dilaksanakan di pura Besakih pada masa penulisan Raja Purana ini, tentang laba pura, tentang banten yang dipersembahkan pada upacara-upacara tertentu. Berikut kami tayangkan bagian teks yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia…Ini perihal ketentuan dan kewajiban di pura Besakih (Gunung Agung) yang tercantum dalam Piagam Raja (Dalem). Anglurah Kebayan di Besakih dan Sedahan Ler di Selat mempunyai tugas yang sama untuk memelihara dan menegakkan piagam raja ini. Begini disebutkan, persembahan raja berupa tanah sawah untuk laba pura. Tanah itu ada di wilayah desa Tohjiwa terletak di subak Kepasekan, Bugbugan, Lenging Ogang, Lod Umah, Dauh Kutuh, jumlah semuanya berbibit 12 1/2 tenah, untuk Batara Ratu Kidul sepertiga, Batara I Dewa Bukit Pangubengan sepertiga, Batara Dewa Danginkreteg sepertiga, jadi masing-masing pura mendapat sawah berbibit 3 tenah 2 depuk. Lagi sawah untuk laba pura persembahan Dalem ke hadapan Batara di Batumadeg tanah sawah di desa Tangkup yang terletak di Jejero berbibit 5 tenah. Lagi laba pura persembahan Dalem ke hadapan Batara Manik Geni berupa tanah sawah di Muncan yang terletak di Teba Kulon, Teba Lor, berbibit 4 tenah. Persembahan Dalem ke hadapan Batara Basukihan, dan Batara Tulus Dewa berupa tanah sawah di desa Klungah terletak di subak Bukihan berbibit 12 tenah yang juga dipergunakan untuk bebakaran. Untuk pesangon juru arah, pengusung Sang Hyang Siyem, Batara Rabut Paradah ialah hasil sawah di desa Macetra di sebelah selatan bukit Santap berbibit tiga setengah tenah. Ini ketentuan yang pertama. Warga keturunan dari Majapahit yang ikut bersama Sri Kepakisan yang datang dan menjadi raja di Bali ialah keturunan warga Kanuruhan, Arya Kenceng, Arya Delancang, Arya Belog, Sira Wang Bang. Sesudah itu Arya Kutawaringin. Pangeran Asak mengembara akhirnya sampai dan tinggal di Kapal. Di sini diangkat sebagai menantu oleh Arya Pengalasan berputra laki-laki bernama Pangeran Dauh, Pangeran Nginte dan ada pula yang wanita. Pangeran Nginte berputra Gusti Agung, Gusti di Ler. Pangeran Dauh berputra laki-laki dua orang dan wanita, yang diperistri oleh Pangeran Pande, yang tertua diperistri sepupunya, yang lebih kecil diperistri oleh Pangeran Dauh yang disebut Pangeran Srantik di Camanggawon. Keturunan Arya Kanuruhan: Pangeran Pagatepan dan Pangeran Tangkas. Pangeran Pangalasan menurunkan:
Srantik ini kesatria dari Majapahit bersepupu dengan keturunan Pangeran Dauh Bale Agung warga Arya Kepakisan menjadi menteri Dalem Kepakisan yang keturunannya antara lain: Pangeran Batan Jeruk, Pangeran Nyuh Aya, Pangeran Asak. Keturunan Arya Wang Bang, Sang Penataran, Tohjiwa, Singarsa termasuk rumpun warga Pengalasan. Keturunan Arya Kenceng yaitu: Tabanan dan Badung, Keturunan Arya Belog: Buringkit dan Kaba-kaba. Keturunan Arya Wang Bang: Pring dan Cagahan Keturunan Arya Kutawaringin: Kubon Tubuh. Tiga orang wesya dari Majapahit yang bernama Tan Kober, Tan Mundur dan Tan Kawur. Keturunannya ialah Pacung, Abiansemal dan Cacahan. Pangeran Pande bersaudara dengan Pangeran Anjarame yang kawin dengan saudara Pangeran Anglurah Kanca. Mempunyai anak yang kawin dengan Pangeran Jelantik. Pangeran Pande mengambil istri ke Kapal menurunkan Arya Dauh yang ada sekarang. Dan I Gusti Agung berputra lima orang pria dan wanita tiga orang antara lain: I Gusti Kacang Pawos, I Gusti Intaran. I Gusti di Ler berputra sepuluh orang pria antara lain: I Gusti Penida dan yang wanita kawin ke Kapal (Gelgel) dengan I Gusti Kubon Tubuh. Ini merupakan mufakat dan ketulusan hati yang tersebut di atas ngemong pura-pura di Besakih. Semoga berhasil dan bahagia. Ini perihal upaya untuk menenteramkan pulau Bali supaya selamat dan selalu berpahala. Sepatutnya Nglurah Sidemen mengawasi ketentuan pura-pura seperti dahulu, tempat bersemayamnya para Dewa dan Batara. Pikiran yang tenteram dilambangkan dengan Padmasana. Padma Nglayang adalah lambang dari Gunung Agung, Gunung Batur adalah lambang dari gunung Indrakila. Di Besakih bagian selatan tempat. bersemayamnya I Dewa Kidul, bangunan gedong bertembok. Persemayaman Ida I Dewa Manik Mas meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Bangun Sakti meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Ulun Kulkul meru bertingkat satu bertiang empat. Persemayaman I Dewa Jero Dalem meru bertingkat satu bertiang empat dan persemayaman I Dewa Empu Anggending sebuah gedong. Persemayaman Batara Sri meru bertingkat satu bertiang empat, persemayaman Batara Basukihan meru bertingkat tujuh. Persemayaman Batara Pangubengan meru bertingkat sebelas. Di Penataran, persemayaman I Dewa Atu sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Paninjoan sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Mas Mapulilit meru bertingkat sebelas. Ini semua terletak di Penataran Agung. Lengkap dengan tempat jempana semua pura terutama sekali bangunan Sanggar Agung. Bale Agung yang terdiri dari sebelas ruangan, sebuah Kori Agung, di luar pintu gerbang ada dua balai bertiang delapan dan candiraras mengapit pintu gerbang. Perihal persemayaman I Dewa Tegal Besung sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Samplangan sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Enggong sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Sagening sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Made sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pacekan sebuah meru bertingkat satu berbentuk gedong. Persemayaman Pangeran Tohjiwa sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman I Dewa Pasek sebuah meru bertingkat tiga. Selanjutnya tentang bale mandapa tempat peristirahatan Dalem didampingi oleh Nglurah Sidemen. Dalem seyogyanya mengetahui semua bangunan suci yang ada di pura Batumadeg yang diemong oleh I Dewa Den Bancingah bersama para Arya dan masyarakat di sebelah barat sungai Telagadwaja supaya dalam keadaan baik semuanya. ini ketentuan mengenai persemayaman para Dewa yang diemong oleh Anglurah Sidemen bersama para Arya dan masyarakat desa di sebelah timur sungai Telagadwaja yaitu: Persemayaman I Dewa Gelap sebuah meru bertingkat tiga bertembok berdinding. Persemayaman I Dewa Bukit bersama permaisuri sebuah meru bertingkat satu bertembok. Persemayaman I Dewa Ratu Magelung meru bertingkat tiga bertembok. Persemayaman I Dewa Wisesa sebuah meru bertingkat sebelas dan sebuah candi raras yang merupakan pintu/jalan keluar masuk I Dewa Bukit. Persemayaman Sang Hyang Dedari sebuah balai bertiang empat yang dibuat dari kayu cendana. Persemayaman I Dewa Tureksa sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Maspahit sebuah meru bertingkat sebelas. Persemayaman I Dewa Manik Makentel sebuah meru bertingkat sebelas, sebuah balai Panggungan beratap ijuk lengkap dengan kain busana, sebuah balai Manguntur. sebuah balai Sumangkirang beratap ijuk. Di luar pintu gerbang dua buah balai Ongkara mengapit pintu. Dan juga dua buah balai Majalila beratap ijuk berhadap-hadapan. Persemayaman I Dewa Manik Geni sebuah meru bertingkat sembilan. Persemayaman I Dewa Penataran sebuah meru bertingkat tujuh. Persemayaman I Dewa Hyangning Made Gunung Agung sebuah meru bertingkat lima. Persemayaman I Dewa Gusti Hyang sebuah meru bertingkat tiga. Persemayaman Ida Hyang Antiga sebuah meru bertingkat satu. Persemayaman I Dewa Hyangning Teges sebuah meru bertingkat satu, semuanya beratap ijuk dan berdinding. Ini bagian yang diemong oleh Anglurah Sidemen. Semua bangunan suci yang berada di Penataran Agung juga menjadi tanggungjawab raja. Dan lagi bangunan suci di pura Dangin Kreteg ditetapkan diemong oleh Arya Karangasem. Demikianlah semua bangunan suci yang tertulis dalam piagam. Dan untuk selanjutnya tentang upakara dan upacara besar maupun kecil menjadi tanggungjawab Anglurah Sidemen, juga mengenai kain-busana usungan para Dewa dan alat-alat perhiasan lainnya dibiayai dengan hasil tanah di Bebandem, Cacakan, Pajegan, Gantalan. Ini harus diingat / diperhatikan oleh Anglurah Sidemen, perlengkapan usungan para Dewa selengkapnya dan kewajiban para pemegang sawah milik raja. Begini anugerah Batara Maospahit. “Wahai turunanku raja Majapahit yang kuberikan gelar Ratu Kepakisan yang menjadi raja Bali, turun temurun harus mentaati dan menghormati piagam ini. Pegang dengan teguh piagam ini dan sebar luaskan di Bali. Dibantu oleh keturunan para Arya yang mengiring dan para punggawa yakni:
Arya Kanuruhan, Kenceng, Belog. Delancang. Dan berikutnya warga Wang Bang yang juga turunan Brahmana yang ikut bersama-sama mengarungi samudra dan warga Kuta Waringin. Kepada Sira Wang Bang saya tugaskan menuju Gunung Agung (Besakih) supaya bersama-sama dengan Sang Kul Putih mohon anugerah ke hadapan Dewa (mengabdikan diri ke hadapan para Dewa) langsung sampai ke puncak Gunung Agung. Maka mulai sekarang Sira Wang Bang bersama Sang Mangku Gunung Agung. Sira Wang Bang bertugas menjaga arca Dewa dan piagam Raja yang turun dari Kahyangan. Ini semua hendaknya diemong selama-lamanya, turun temurun. Aku mengatur / menentukan pemujaan kepada para Dewa dan lanjut upacara pengodalan pada hari Rabu Wage, wuku Kulawu, upacara pemujaan setiap hari purnama dan tilem (bulan gelap) Oktober. Nopember. April, Juli. pada saat itulah raja datang bersembahyang ke Besakih bersama para pendeta dan pasukan. Aku memberi ijin untuk mengambil hasil bumi, udara, tegalan dan sawah di desa-desa, hasil pantai, laut dan gunung di sebelah timur sungai Telagadwaja. Terutama hasil tegal dan sawah bukti di desa Muncan. Jumlah uang tujuh belas ribu dan sawah berbibit delapan puluh lima tenah, sebagai biaya dapur dan isi lumbung agung, Sawah-sawah itu terletak di Bukih, Pedengdengan Kelod, sampai ke Keben Aras yang bernama Tinggarata. Pahyasan, Sari, Gunung Sari Lebih, dikenakan bawang putih 2200 biji dan lagi hasil bumi Selat. Ingat barang-barang itu sebagai pengisi lumbung agung yang terletak di halaman luar pura Besakih tempat hasil sawah laba itu seharga 1700. Lumbung itu milik raja dan lumbung pajenengan Batara di Gunung Agung (Besakih). Kalau sudah demikian stabillah persemayaman Dewa dan kedudukan raja. Kalau lumbung Dewa dan milik raja rusak maka diwajibkan desa harus memperbaiki lumbung itu dan mengatapi sampai selesai. Raja memberikan kuasa kepada semua penghulu desa. Peringatan kepada Sedahan Penyarikan: supaya menaikkan padi ke lumbung terutama hasil sawah Santen Dawa Higa yang dipergunakan untuk biaya upacara di pura Besakih dan Batara di puncak Gunung Agung. Bahan upakara itu dibebankan kepada masyarakat desa Sikuhan, Renaasih, Luwih, Suarga Peleng, masing-masing 500 biji dasun putih beserta uang dan ayam putih jantan betina, bunga palawa, bunga kasna yang bunganya melekat menjadi satu dan cemara tiblun. Ini harus dibawa setiap hari Kamis Paing wuku Wayang dan Minggu Paing Dungulan ke halaman luar pura Besakih diterimakan kepada Sedahan Dewa. Jangan lalai jangan alpa dan jangan curang. Ini adalah persembahan raja kepada para Dewa dan Batara yang bersemayam di puncak Gunung Agung. Batara bersabda, “Hai kamu manusia taatilah titahku! Piagam ini telah direstui oleh para Dewa Nawasanga. Jika tidak mentaati Piagam ini semoga kamu sirna dan menjadi lintah”. Ini Piagam tahun 1007 Masehi (929 Saka). Om Namobhye namah, Om Sri wastha sattawasar. Raja Majapahit kabarnya dalam keadaan berbaring. Pada waktu itulah Prasasti yang berupa Piagam ini dikeluarkan. Aku adalah Batara Indra, aku ini adalah Batara Maospahit dan aku raja Majapahit bersama-sama bersemayam di pulau Bali. Diceritakan sekarang Dalem Pakisan yang menurunkan raja Bali. Karena ketulusan hati dan kebijaksanaan beliau ibarat Sang Hyang Darma menjadi raja yang dapat mengalahkan raja Bali yang terdahulu. Dan Sira Wang Bang yang mengabdikan diri kepada Batara di Besakih juga mengemong pura tempat bersemayamnya Batara Naga Basukih. Demikianlah kewajibannya selama hidup serta para turunannya mengabdi mempersembahkan air suci. Sira Wang Bang mengantarkan persembahan raja ke hadapan Batara di Kahyangan tatkala bersembahyang ke hadapan yang bersemayam di puncak Gunung Agung dan Batara Pusering Tasik (Tengah samudra) dan lautan madu. Aku mengambil hasil bumi dan angkasa, segala jenis hasil pesisir, lautan dan gunung untuk biaya upacara ke hadapan Batara di Besakih (gunung Agung). Berkat anugerah Batara masyarakat bersatu mematuhinya akibatnya bumi pun makmur. Para Arya semua bersatu yaitu: Arya Kanuruhan, Arya Kenceng, Delancang, Arya Belog, Arya Kuta Waringin. Sabda Batara, “Hai kamu manusia mayapada, jangan engkau durhaka kepadaku. Jika engkau tidak memelihara pura-pura di Besakih persemayaman para Dewa masing-masing dan kalau ada yang rusak tidak kamu perbaiki, tidak bakti, semoga kamu bertikam-tikaman dengan keluargamu dan semoga engkau binasa, martabatmu akan surut dan menderita serta jauh dari keselamatan”. Sabda Batara Nawasanga kepada para umat penganut Siwa dan Buda dan para catur wangsa supaya memelihara dan memperbaiki kerusakan pura di Besakih. Apabila waktu bersembahyang melihat warna seperti ijuk sekakab (segabung), itu pertanda turunnya Batara Kidul Bangun Sakti. Ucapkan mantra: Ong, Bang, I, namah. manifestasi Sang Hyang Antaboga yang bersemayam di samudra. Kalau kelihatan seperti air tenang itu pertanda turunnya I Dewa Bukit. Ucapkan mantra: Ong, Yang, Ung, namah. ltulah manifestasi Batara Duhuring Akasa / Batara Naga Basukih. Kalau kelihatan ada cahaya seperti api menyala dan gemerlapan, itu pertanda turunnya Batara Atu. Ucapkan mantra: Ongkara Siwa namah swaha. Manifestasi Sang Hyang Siwa. Apabila kelihatan warna putih berkilau-kilauan itu pertanda turunnya I Dewa Sesa. Ucapkan mantra: Ong, Saswara Indra nama swaha. Manifestasi Sang Hyang Surya. Tampak cahaya berwarna merah itu pertanda turunnya I Dewa Rabut Pradah. Ucapkan mentera: Ong, Bang Yudhaya namah swaha. Manifestasi Batara Brahma. Kelihatan cahaya berwarna kuning seperti emas wilis itu pertanda turunnya Batara Maospahit. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Tang namah swaha. Manifestasi Batara Wulan. Kelihatan. cahaya seperti kaca hitam itu pertanda turunnya Batara Batu Madeg. Ucapkan mentera: Ong, Ang, Ung. Kresnaya nama swaha. Manifestasi Batara Wisnu. Kelihatan cahaya seperti perak bertatahkan permata mirah itu pertanda turunnya Batara Basukihan. Ucapkan mentera: Ong, Mang, Siwaya namah swaha. Manifestasi Sang Agawe Pita. Kelihatan cahaya seperti mirah dan intan yang telah digosok itu pertanda turunnya I Dewa Mas Makentel. Ucapkan mentera: Ong, Mang. Siwaya namah swaha. Manifestasi Batara Rabut Sedana Sakti. Kelihatan cahaya seperti air embun seperti permata jamrut itu pertanda turunnya I Dewa Manik Malekah. Ucapkan mentera: Ong, Sang Bhawantu Sri ya namah. Manifestasi Batara Sri. Kelihatan cahaya seperti bunga teleng gemerlapan itu pertanda turunnya Batari Pertiwi. Ucapkan mentera: Ong, Ong, Sri Sundharu ya namah. Manifestasi Batari Kuwuh/Batari Sundhari. Beliaulah yang menciptakan yang indah-indah dan benda-benda berharga dan persemayaman beliau tiada taranya. Kelihatan cahaya seperti kunang-kunang bertaburan itu pertanda turunnya I Dewa Geni / I Dewa Gelap. Ucapkan mentera: Ong Sa, Ba, Ta, nama siwaya. Beliau berwujud baik buruk, bumi dan angkasa. Kelihatan cahaya gelap gulita itu pertanda turunnya Batara Gangga di sebelah selatan Besakih menjadi mata air yang dinamakan Sindu Tunggang. Kisah kenyataan. Kelihatan cahaya gelap gulita turun Batari Gangga di sebelah utara Besakih: menjadi mata air yang dinamakan Sang Hyang Tirta Sakti Amerta. Demikianlah kisah semua mata air pada tahun 122 M. Turun Batara Indra dan membawanya ke Surga. Ini disebut Brahma Tirta terjadi pada tahun 126 Masehi. Turun pada waktu gelap gulita hujan angin kelihatan seperti mas berpermata intan dan terdengar seperti suara gentaworag para Mpu mengalun. Ucapkan mentera: Ong, Nang, Ung, Nang, Ung. Turunlah arca mas bermuka empat, arca perak, tembaga, loyang, besi. Semua bertatahkan permata mirah. Turun pada waktu malam hari disertai topan dan hujan itu pertanda turunnya Sang Hyang Siyem berwarna putih kehijau-hijauan dan Sang Hyang Rabut Pradah diiringi dengan tabuh-tabuhan dengdengkuk. Untuk mengingatkan raja supaya bersembahyang ke Besakih bersama para Arya serta rakyatnya mempersembahkan upacara. Semua mengiring malasti ke pancuran Pamanca (Arca) pada paruh bulan terang dengan kurban berupa babi guling 5, suci, dan lis. Di Pulo Jelepung sawah berbibit dua tenah dan lagi di Kinang sawah berbibit dua setengah tenah di Balu Agung Jelantik sawah berbibit empat tenah di Batu Mangecek berbibit empat tenah. Lagi sawah di daerah Tusan yang terletak di Jati Heling berbibit dua tenah.

Suksme…..

Om Santih…3x Om

Sumber : MAHLUK MITOLOGI DAN LEGENDA

Tumpek Landep, Jaga Kesucian Teknologi di Bali

Oleh I Ketut Sutika

Denpasar (ANTARA News) – Hari keagamaan umat Hindu dalam beberapa pekan belakangan jatuh secara beruntun. Dalam bulan ini terdapat dua hari suci, yakni Hari Raya Saraswati, hari turunnya ilmu pengetahuan yang jatuh pada Sabtu (10/11), menyusul Hari Pagerwesi (meningkatkan keteguhan iman) yang dirayakan umat Hindu pada hari Rabu (14/11). Umat Hindu setelah merayakan kedua hari baik itu, kembali akan merayakan Hari Tumpek Landep, Sabtu (24/11), yang kali ini bertepatan dengan hari Purnama, untuk melakukan persembahan suci bagi segala jenis benda tajam seperti keris dan senjata pusaka. Demikian pula persembahan terhadap berbagai jenis alat produksi dan aset antara lain mesin, kendaraan atau benda-benda yang terbuat dari besi, tembaga, emas, perak dan benda-benda teknologi lainnya. “Tumpek Landep merupakan hari peringatan untuk memohon keselamatan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai Dewa Senjata atau peralatan dari bahan besi, logam, perak dan emas,” tutur Ketua Program Studi Pemandu wisata Institut Hindu Dharma Indonesia (IHDN) Denpasar, Drs I Ketut Sumadi M.Par. Pria kelahiran Gianyar yang juga mahasiswa program doktor (S-3) Kajian Budaya Universitas Udayana itu menambahkan, Tumpek Landep juga sebagai “pujawali” Betara Siwa yang berfungsi melebur dan “memralina” (memusnahkan) agar kembali ke asalnya. Melalui perayaan “Tumpek Landep” umat manusia diharapkan dapat lebih menajamkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) untuk kegiatan yang bermanfaat bagi kesejahteraan dan kemajuan bangsa dan negara Indonesia. “Tumpek Landep” salah satu hari yang cukup diistimewakan umat Hindu jatuh setiap 210 hari sekali. Kala itu masyarakat Bali menggelar kegiatan ritual yang khusus dipersembahkan untuk benda-benda dan teknologi, berkat jasanya yang telah mampu memberikan kemudahan dalam mencapai tujuan hidup. Persembahan korban suci, menurut Ketut Sumadi, juga ditujukan untuk alat-alat pertanian seperti cangkul, sabit dan alat-alat pertanian lainnya bagi seseorang yang profesi sebagai petani. Demikian pula mobil, sepeda motor, sepeda angin, mesin-mesin, komputer, televisi, radio, pisau, keris, tombak dan berbagai jenis senjata, juga mendapat persembahan banten, rangkaian khusus kombinasi janur, bunga, buah dan aneka jajan. Mobil dan sepeda motor yang lalu-lalang di jalan raya pada hari Tumpek Landep juga mendapat perlakuan istimewa, diberi persembahan sesajen dan hiasan khusus dari janur yang disebut “ceniga”, “sampian gangtung”, dan “tamiang”. Semua itu merupakan wujud puji syukur orang Bali ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan pengetahuan dan kemampuan merancang teknologi canggih, hingga tercipta benda-benda yang dapat mempermudah kehidupan manusia di dunia ini. Menurut Sumadi, teknologi canggih harus dimanfaatkan untuk hal-hal yang bersifat positif, sesuai dengan konsep hidup orang Bali, “Tri Hita Karana”, hubungan yang harmonis dan serasi sesama umat manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Sang Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa. Oleh sebab itu, seluruh peralatan yang dipakai umat manusia untuk mengolah isi alam, khususnya peralatan yang mengandung unsur besi, baja, emas, atau perak, harus tetap dijaga kesuciannya. Dengan demikian selamanya diharapkan dapat digunakan dengan baik tanpa merusak alam. Orang yang bekerja sebagai petani misalnya, akan merawat dan menjaga alat-alat pertaniannya dengan baik, seperti bajak, cangkul, dan sabit. Sementara masyarakat yang bekerja sebagai pembuat berbagai peralatan dari bahan baku besi, baja, emas, perak (perajin) pun akan memelihara dan menjaga peralatannya. Vibrasi Kesucian Wisatawan mancanegara yang menikmati liburan di Pulau Dewata, ada di antaranya memiliki aura spiritual yang kuat, sehingga mereka bisa merasakan rangkaian ritual di Pulau Dewata. Termasuk Tumpek Landep menjadikan bumi Bali penuh memancarkan vibrasi kesucian, kedamaian dan kenyamanan. Menurut Kepala Dinas Pariwisata Bali Drs I Gde Nurjaya, pelancong pun memuji tradisi penuh ritual ini sebagai kegiatan yang penuh spirit kemanusiaan dalam membangun manusia yang arif yang dapat memanfaatkan kemajuan iptek. Seirama dengan kemajuan itu, orang-orang Bali semakin banyak memiliki sarana kelengkapan rumah tangga yang terbuat dari besi maupun tembaga. Sarana perlengkapan itu antara lain mobil, sepeda motor, televisi, radio, dan jenis peralatan lainnya. Bagi mereka yang terjun dalam bisnis foto copy dan percetakan yang mengoperasikan berbagai mesin, juga melaksanakan upacara Tumpek Landep, dengan panjatan doa agar peralatan yang mereka gunakan lebih awet dan tidak segera rusak. “Kalau mobil-mobil mewah itu bisa berkomunikasi, tentu berharap dibeli oleh orang Bali, karena selain dirawat dengan baik, juga mendapat perlakuan khusus pada hari Tumpek Landep,” ujar Nurjaya. Semua peralatan dari besi, termasuk mesin, harus terpelihara kesuciannya, dengan harapan tidak menimbulkan masalah bagi kehidupan umat manusia dan alam semesta. Perawatan dan pemeliharaan yang dimaksud, baik secara fisik, maupun niskala (gaib) dengan melaksanakan kegiatan ritual yang disebut upacara Tumpek Landep. Upacara tersebut dilaksanakan untuk memohon keselamatan kehadapan “Sang Hyang Pasupati”, manifestasi Sang Hyang Widhi Wasa sebagai Dewa pencipta dan pemilik peralatan yang terbuat dari besi, perak, emas. Makna dari pelaksanaan upacara Tumpek Landep menurut Sumadi, ayah dari dua putra itu, adalah mengasah dan meningkatkan ketajaman pikiran, menjaga kesucian teknologi serta mohon kekuatan lahir batin agar manusia selamat dalam mengarungi “samudera kehidupan”. Umat manusia hendaknya terus meningkatkan ketajaman dan kecerdasan akal serta pikiran dengan mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Sebab dari semua makhluk yang dilahirkan ke dunia, hanya manusia yang dibekali kecerdasan akal dan pikiran. “Manfaatkanlah itu untuk membebaskan diri dari samsara atau penderitaan dan kelahiran berulang-ulang,” ujar Sumadi seraya menjelaskan, secara teknis pelaksanaan upacara Tumpek Landep diuraikan dalam lontar Sundarigama, salah satu kitab ajaran agama Hindu. Adapun sesajen yang dipersembahkan pada hari Tumpek Landep terdiri atas tumpeng putih kuning selengkapnya dengan lauk sate, terasi merah, daun dan buah-buahan 29 tanding (kelompok) dihaturkan di sanggah/merajan (tempat suci)`. Persembahan kepada Sanghyang Pasupati berupa sebuah “Sesayut” Pasupati, sebuah “Sesayut Jayeng Perang”, sebuah “Sesayut Kusumayudha”, “Banten Suci”, “Daksina, Peras, Ajuman, Canang Wangi, Reresik atau Pabersihan”, yang semuanya terbuat dari rangkaian janur. Besar kecilnya upacara tersebut dilaksanakan sesuai kemampuan seseorang atau perusahaan. Biasanya perusahaan besar akan menambah upacara ini dengan membuat pesta masakan khas Bali. Oleh sebab itu tidak mengherankan, jika berbagai benda, termasuk mesin-mesin dan mobil pada hari Tumpek Landep dihias sedemikian rupa dengan berbagai ornamen “reringgitan” yang terbuat dari janur dan kain warna putih kuning. Mobil atau sepeda motor yang usai diupacarai biasanya tidak dilepas perhiasannya, sehingga saat melintas di jalan raya mobil itu tampak berbeda dengan hari-hari biasa. Warga masyarakat pun tampak lebih waspada di jalan, karena hari itu adalah hari istimewa bagi kendaraan kesayangannya. Jika makna universal Tumpek Landep itu bisa dihayati dan diamalkan oleh seluruh umat manusia di muka bumi, tentu tidak akan terjadi berbagai kerusakan lingkungan. Tentu sangat bagus jika spirit perdamaian dari upacara Tumpek Landep yang dilaksanakan umat Hindu di Bali terus didengungkan ke seluruh penjuru dunia dalam membangun kehidupan dunia global yang damai sejahtera, ujar Ketut Sumadi. (*)

Editor: Priyambodo RH

COPYRIGHT © ANTARA 2007

Tumpek Landep dan Sesayut Pasupati

Bertepatan dengan Saniscara Kliwon Wuku Landep,  umat Hindu merayakan Tumpek Landep. Ida Pedanda Made Gunung pernah menyampaikan, menurut filosofinya, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman citta, budhi dan manah (pikiran). Diharapkan, tingkah laku perbuatan umat selalu dilandasi atas kesucian pikiran sehingga bisa memilah mana yang baik maupun yang buruk. Sebab dari pikiran kebahagiaan itu datang dan dari pikiran juga kesedihan menggelayut di hati. Seperti tersurat dalam Sloka 81, Sarasamuscaya, “Pikiran itu sangatlah labil dan berubah-ubah, apabila seseorang dapat mengendalikan pikirannya, niscaya ia akan memperoleh surga di dunia dan surga di akherat”.

Umat Hindu senantiasa mensyukuri karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bhakti Marga merupakan salah satu yadnya yang paling diminati umat untuk menunjukkan rasa syukur serta pendekatan diri pada Beliau Yang Maha Kuasa. Setiap hari rasa bhakti ditunjukkan dengan menghaturkan canang dan rarapan sesuai kemampuan. Sudah bisa menghidangkan makanan untuk hari ini disyukuri dengan menghaturkan banten jotan meski dengan lauk seadanya.

Rasa syukur rupanya mampu menguatkan hati, tangan dan kaki untuk tetap berusaha menapaki kehidupan ini. Rasa syukur tidak lepas dari pikiran suci yang mendamaikan hati. Rasa syukur adalah vitamin yang memompa semangat untuk tetap berkarya dan menjadi lebih baik dari hari ini. Kembali lagi, rasa syukur bersumber dari pikiran positif.

Ida Sang Hyang Widi Wasa, Maha Besar Beliau, sebuah kebahagiaan bisa menapaki jalan kebenaran melalui tuntunan sastra-Nya. Pada hari Tumpek Landep lalu, Beliau menghadirkan berkas kebahagiaan dan peringatan pada umat agar mengasah indria pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk lain sesama ciptaan-Nya.

Ada yang istimewa pada hari Tumpek Landep di Bali. Kendaraan sepeda, motor dan mobil yang lalu-lalang di jalan tampak indah dihiasi caniga, sampyan gantung dan tamiang. Semua itu merupakan wujud syukur umat atas kecanggihan ilmu pengetahuan teknologi sehingga bisa mempersingkat waktu dan jarak dengan diciptakannya alat transportasi tersebut. Demikian juga teknologi lain yang menggunakan bahan dari besi mendapat perlakuan khusus di hari tersebut.

Teknologi canggih ada karena manusia menggunakan pikiran untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan menghasilkan karya yang bermanfaat. Terkait dengan hari Tumpek Landep ini umat melakukan pemujaan kepada Sanghyang Siwa Pasupati yang merupakan dewanya taksu dengan menghaturkan sesayut pasupati. Setelah memperingati hari Saraswati (turunnya ilmu pengetahuan) selanjutnya umat memohon pengetahuan tersebut bertuah dan memberi ketajaman pikiran.

Pada hari tersebut juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga hari Tumpek Landep kerap disebut oton besi. Motor, mobil, komputer juga diberikan otonan sebagai sarana yang digunakan setiap hari sehingga bisa memberi kebaikan dan tidak mencelakakan. Dari semua yang dilaksanakan tersebut, makna mendalam yang ingin diperoleh dari pelaksanaan upacara ini adalah untuk mengasah pikiran layaknya perabotan-perabotan yang digunakan tersebut supaya lebih tajam dan berguna untuk kebaikan. Pikiran yang tajam akan mampu memerangi kebodohan dan menekan sifat bhutakala dalam diri.

Pada hari Tumpek Landep kebahagiaan datang dari berbagai penjuru sebab pikiran positif yang menaunginya. Tidak hanya umat yang merayakan mendapatkan berkah di hari suci ini. Setiap orang bisa merasakan kebahagiaan termasuk yang merayakan merasa lebih PD dengan mengendarai kendaraan yang lebih bersih dari hari biasanya. Sektor usaha cuci motor/mobil juga kecipratan rejeki. Banyak yang antre untuk mencuci kendaraannya sebelum diberikan otonan.

Sektor ekonomi di Bali terus bergulir dengan adanya perayaan-perayaan hari suci agama. Inilah yang diharapkan, kebahagiaan semua orang.

Demikian dengan perayaan Tumpek Landep ini semoga umat memiliki ketajaman pikiran, bisa memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk tujuan positif bagi kesejahteraan masyarakat, kebaikan alam dan meningkatkan rasa syukur atas anugrah-Nya. Jadikan pikiran sebagai sumber kebahagiaan dengan mengendalikannya. Jadilah joki bagi kuda-kuda pikiranmu yang mengarahkannya ke arah yang baik. Jangan biarkan kuda-kuda pikiran yang mengarahkanmu menuju kesengsaraan pikiran.

Seperti sloka 398, Sarasamuscara, “Karena sesungguhnya pikiranlah yang menyebabkan kesengsaraan, pikiran itu selalu mengarahkan sang diri untuk tidak pernah merasa puas akan apapun, pikiran juga yang mengarahkan ucapan dan prilaku manusia untuk tenggelam dalam lingkaran nafsu dan kesesatan; maka dari itu hendaklah pikiran itu didamaikan, dan diarahkan menuju kesucian dan kebebasan dari ego dan nafsu-nafsu sesat”.

Dikutip dari: http://yadnya-banten.blogspot.co.id/2012/07/tumpek-landep-dan-sesayut-pasupati.html

Hakikat Tumpek Landep

Oleh: Jero Mangku Sudiada

“api ched asi papebhyah sarvebhyah
papakrittamah sarvam jnanaplavenai ‘va
vrijinam samtarishyasi”
(BhagavadgitaIV.36)

Walau seandainya engkau paling berdosa
diantara manusia yang memikul dosa
dengan perahu ilmu-pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi

Setiap hari suci agama umat Hindu sesungguhnya tak hanya sekadar rerahinan rutin yang mesti dirayakan. Namun, didalamnya ada nilai filosofis yang penting dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Tumpek Landep, misalnya, memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran.

Setiap enam bulan sekali umat diingatkan untuk melakukan evaluasi apakah pikiran sudah selalu dijernihkan (disucikan) atau diasah agar tajam? Sebab, dengan pikiran yang jernih dan tajam, umat menjadi lebih cerdas, lebih jernih ketika harus melakukan analisis, lebih tepat menentukan keputusan dan sebagainya.

Lewat perayaan Tumpek Landep itu umat diingatkan agar selalu menggunakan pikiran yang tajam sebagai tali kendali kehidupan. Misalnya, ketika umat memerlukan sarana untuk memudahkan hidup, seperti mobil, sepeda motor dan sebagainya, pikiran yang tajam itu mesti dijadikan kendali. Keinginan mesti mampu dikendalikan oleh pikiran. Dengan demikian keinginan memiliki benda-benda itu tidak berdasarkan atas nafsu serakah, gengsi, apalagi sampai menggunakan cara-cara yang tidak benar.

Semua benda tersebut mestinya hanya difungsikan untuk menguatkan hidup, bukan sebaliknya, justru memberatkan hidup. Dulu, keris dan tombak serta senjata tajam lainnyalah yang digunakan sebagai sarana atau senjata untuk menegakkan kebenaran, kini sarana untuk memudahkan hidup dan menemukan kebenaran itu sudah beragam, seperti kendaraan, mesin dan sebagainya.

Sehingga pada saat Tumpek Landep diupacarai dengan berbagai upakara seperti: sesayut jayeng perang dan sesayut pasupati, dengan maksud untuk memuja Tuhan, dan lebih mendekatkan konsep atau nilai filosofi yang terkandung dalam Tumpek Landep.

Landep = Lancip/ Tajam. Kata Landep dalam Tumpek Landep memiliki makna lancip atau tajam. Sehingga secara harfiah diartikan senjata tajam seperti tombak dan keris. Benda-benda tersebut dulunya difungsikan sebagai senjata hidup untuk menegakkan kebenaran. Dalam Tumpek Landep benda-benda tersebut diupacarai.

Kini, pengertian landep sudah mengalami pelebaran makna. Tak hanya keris dan tombak, juga benda-benda yang terbuat dari besi atau baja yang dapat mempermudah hidup manusia, di antaranya sepeda motor, mobil, mesin, komputer, radio dan sebagainya.

Sementara secara konotatif, landep itu memiliki pengertian ketajaman pikiran. Pikiran manusia mesti selalu diasah agar mengalami ketajaman. Ilmu pengetahuanlah alat untuk menajamkan pikiran, sehingga umat mengalami kecerdasan dan mampu menciptakan teknologi.

Dengan ilmu pengetahuan pulalah umat menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu memanfaatkan teknologi itu secara benar atau tepat guna, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan digunakan untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan.

“tad viddhi pranipatena
paripprasnena sevaya
upadekshyanti te jnanam
jnaninas tattvadarsina”
(BhagavadgitaIV.34)

Belajarlah dengan wujud displin, dengan
bertanya dan dengan kerja berbakti,
guru budiman yang melihat kebenaran akan mengajarkan padamu ilmu budi-pekerti

Sumber: HDNet

Dana Punia Sadhana Utama di Zaman Kali

Mangku Pasek Swastika

Dari segi arti, dana punia disebutkan suatu pemberian tulus ikhlas sebagai salah satu bentuk pengamalan ajaran dharma yang harus dihayati dan diamalkan. Dana punia ini dituangkan dalam Bhisama Pandita PHDI Pusat No: 01/Bhisama/Sabha Pandita Parisada Pusat/X/2002.

Selanjutnya disebutkan berupa pemberian, dapat berupa nasehat/wejangan atau petunjuk hidup yang dapat merubah keidupan seseorang menjadi lebih baik disebut Dharmadana. Berikut pemberian dapat berupa pendidikan disebut Vidyadana. Selanjutnya pemberian dapat berupa harta benda disebut Arthadana yang bertujuan untuk menolong atau menyelamatkan seseorang atau masyarakat.

Dana Punia sebagai wujud dharma mempunyai peranan penting dan haus serta wajib menjadi kenyataan dan dijalankan oleh semua umat sesuai dengan keberadaan dan kemampuan masing-masing, seperti diamanatkan dalam Wrhaspati Tattwa 26, yakni Sila-tingkah laku yang baik, Yadnya-pengorbanan suci, Tapa-pengendalian diri, Dana-pemberian, Prawjya-menambah ilmu pengetahuan suci, Diksa-penyucian diri/dwijati, dan Yoga-hubungan dengan Tuhan. Karena itulah setiap umat wajib secara utuh dapat mengamalkan ajaran dharma agama tersebut.

Lain dari pada itu, tujuan pokok dan ajaran dana punia adalah untuk menumbuhkembangkan sikap mental yang tulus pada diri pribadi umat manusia dalam melaksanakan ajaran Wairagya, yaitu ketidak terikatan (keikhlasan) pada diri seseorang. Di masyarakat, ajaran atau tindakan dana punia umumnya dalam wujud materi berupa benda-uang. Namungguhnya un setidaklah demikian adanya. Di atas telah disinggung beberapa wujud dana punia dimaksud.

Disebutkan, dengan ber-dana punia akan memberikan jalan bagi umat manusia mencapai kesempurnaan hidup dan tidak terikat akan duniawi, karena apa yang mereka punyai akan terselamatkan serta menjadikan orang lain sebagai penampung suatu kelebihan dalam hal kebendaan yang dipunyai seseorang, sehingga disini terjadi pemerataan dalam keadilan.

Dana Punia juga mengajarkan umat manusia peduli dengan sesame. Hal ini sesuai dengan ajaran Tat Twam Asi yang memandang orang sama dan sebagai bagian dari diri sendiri, terutama saat memerlukan pertolongan, sehingga akan memberikan serta menimbulkan kebahagiaan hidup yang sejati, seperti diamanatkan dalam kitab suci Veda, yaitu Vasudhaivakutumbakam, semua makhluk adalah bersaudara.

Dalam ajaran sastra Hindu ada disebutkan, bahwa landasan sastra dari pada dana punia disebutkan sebagai berikut. “tapah param karta yuge, tretayam jnana muccyate, dwapare yajnawaewahur, danamekam kalao yuge.” Artinya, bertapa adalah prioritas di jaman Kerta Yuga, di jaman Treta Yuga prioritas jnana, jaman Dwapara upacara yadnya, sedangkan di jaman kali prioritas beragama adalah ber-dana punia.

Dalam Sarasamuscaya disebutkan, “Apan ring tribhuana, yan hana meweh kagawayaniya, lena sangkeng dana, agong wi kang trsna ring artha, apan ulihning kasakitanikang artha katemu.” Artinya, sebab di tiga dunia ini tidak ada yang lebih sulit dilakukan daripada ber-dana punia, jika ia sangat terikat hatinya kepada harta benda, karenanya bersakit-sakitlah ia dari harta benda yang diperoleh itu.

Selanjutnya dalam Slokantara disebutkan, “Tithau dasagunam, danam grahane satamewa ca,kanyagate sahasrani, anantam yogantakale.” Artinya, dana punia yang diberikan di bulan purnama dan bulan mati menyebaban sepuluh kali kebaikan yang diterima, jika waktu gerhana membawa pahala seratus kali, jika di hari suci sradha, pemujaan kepada leluhur menjadi seribu kali lipat dan jika dilakukan di akhir yuga (Zaman Kali), tak terbatas pahala kebaikan yang diterimanya.

Dalam kitab suci Veda ada disebutkan juga tentang dana punia tersebut, antara lain sebagai berikut: semoga kita dapat mengabdikan diri menjadi instrument Tuhan Yang Maha Esa dan dapat membagikan keberuntungan kita kepada orang-orang miskin dan mereka yang membutuhkan (Rg.Vedha.I.15.8). Hendaknya mereka memperoleh kekayaan dengan kejujuran dan dapat memberikan kekayaannya itu dengan kemurahan hati, mereka tentunya akan dihargai oleh masyarakat. Semogalah mereka tekun bekerja dan meyakini kerja itu sebagai bhakti kepada Tuhan Yang Maha Esa (Rg.Vedha.I.15.9).

Berdermalah untuk tujuan yang baik dan jadikanlah kekayaanmu bermanfaat. Kekayaan yang didermakan untuk tujuan luhur tidak pernah hilang. Tuhan Yang Maha Esa memberikan jauh lebih banyak kepada yang mendermakan kekayaan untuk kebaikan bersama (Atharva Vedha.III.15.6).

Hendaknya bekerjalah kamu seperti dengan seratus tanganmu dan mendermakan hasilnya dengan seribu tanganmu. Bila kamu bekerja dengan kesungguhan dan kejujuran, hasil yang diproleh akan berlimpah ruah-beribu kali. Bagi yang mendermakannya, sesuai dengan keperluannya, Tuhan Yang Maha Esa akan menganugrahkan rahmatnya (Atharva Vedha.III.24.5).

Majalah Raditya 23 Nopember 2012