Gugurnya Begawan Bisma dalam Perang Bharatayuda

Mengenai pelaksanaan upacara pitra yadnya yang telah dilandasi oleh ajaran Weda (Pitri Meda Sutra ) juga tertuang kedalam Tattwa Agama dan kedalam Tattwa Carita yaitu Itihasa Mahabrata, pada focus “Gugurnya Begawan Bisma”.

Diceritakan didalam peperangan di kuru setra, Begawan Bisma sebagai Senopati perang di pihak Korawa sedangkan dipihak pandawa adalah Dewi Sri Kandhi, hal itu terjadi karena hasil pemikiran dari penasehat perang yakni Sang Kresna dikarenakan Pandawa sangat kawatir akan kesaktian Begawan Bisma, oleh karena itu Dewi Sri Kandhi lah yang di angkat sebagai senopati Pandawa, didampingi oleh Sang Arjuna dan Deresta Jumena, Sang Kresna yang maha tahu bahwa Dewi Sri Kandhi adalah penjelmaan dari Dewi Ambha (istri Bagawan Bisma) bahwa sudah masanya Bagawan Bisma untuk menerima hasil kutukan dari Dewi Ambha, sehingga dalam peperangan tersebut, terpanahla Bagawan Bisma oleh panah Dewi Sri Kandhi dan dibantu dengan seribu anak panah Arjuna, maka robohlah Guru besar Keluarga Barata, maka peperangan dihentikan, dan kedua belah pihak mendekati Sang Guru Bisma.

Pada saat itu Guru Bisma meminta sebuah bantal kepada Raja Duryodana maka, diambilkan sebuah bantal empuk, tetapi ditolak oleh Guru Bisma, kemudian Guru Bisma meminta kepada Arjuna, sekejap Arjuna merentangkan tiga anak panahnya kearah kepala Guru Bisma, anak panah tepat jatuh dibelakang kepala Guru sebagai penyangga kepalanya.

Sesaat kemudian Guru Bisma meminta seteguk air minum kepada Raja Duryodana, diambilkanlah air dengan tempat sebuah kendi manic, sang Guru pun menolaknya, bukan itu yang dimaksudnya, dan akhirnya Beliau meminta kepada Arjuna, Arjuna pun memetangkan anak panahnya tepat jatuh disamping kanan dari kepala sang Guru, tiba-tiba memancurlah air dari dalam tanah. Menjelang detik-detik meninggalnya Guru Bisma, Beliau meminta air untuk membersihkan dirinya karena merasa kotor kepada Raja Duryodana, dibawakanlah air memakai tempat sebuah tempayan emas, tetapi sang Guru menolaknya, bukan itu yang dimaksudnya. Akhirnya Beliau meminta kepada Arjuna, maka Arjuna pun mementangkan dua anak panahnya kea rah Sang Guru, serta anak panah itupun jatuh satu persatu dan yang jatuh lebih dulu adalah anak yang dibagian kepala Sang Guru, maka memancurlah air dari dalam tanah mengalir dari kepala Sang Guru membasahi seluruh tubuh sampai kekaki, kemudian satu anak panah lagi jatuh dibagian kaki Sang Guru, demikian juga memancur air dari dalam tanah, mengalir kea rah kepala Sang Guru. Setelah matahari terbit diarah utara (Utarayana) yang merupakan pertanda Guru Bisma akan meninggalkan dunia fana ini, sebelum beliau menghembuskan nafas terakhir, Beliau berpesan kepada Arjuna untuk menghaturkan “Puja Gni Astra” sebagai petanda baktinya sang murid terhadap sang Guru. Dan setelah Beliau wafat, Sang Arjuna mengucapkan puja serta mementangkan anak panah “Gni Astra”, serta diarahkan sasarannya kejazad Guru Bisma.

Dari isi Ithiasa diatas dapat disimak filsafat Agama yang terkandung di dalamnya, sehingga tercermin menjadi nilai-nila ritual keagamaan, terutama menjadi tatanan dalam pelaksanaan upacara Pitra Yadnya, yaitu :

1.    Kejadian gugurnya Guru Bisma dengan penuh anak panah ditubuhnya sehingga pada saat rebahnya badan Rsi Bisma dalam keadaan terdongkrak atau mengapung di atas tanah, akibat dari ribuan anak panah tersebut. Hal ini menjadi simbul dan budaya Hindu, adanya sebuah pepaga sebagai alas memandikan jenasah. Demikian juga tentang posisi mengapung tersebut merupakan simbol dari “Alam Bhwah Loka”, sedangkan adanya tiga buah anak panah berada pada kepala Rsi Bisma sebagai bantalnya, adalah menjadi simbul adanya “Leluwur”, yang menyimbulkan adanya “Alam Swah Loka” sebagai alamnya para “Dewa” (para leluhur).

2.    Gugurnya Rsi Bisma karena akibat dari panahnya Dewi Sri Kandhi, yang dibantu oleh Arjuna dan Deresta Jumena hal ini mengandung filsafat Agama sebagai berikut :

·         Rsi Bisma menjadi simbul, dengan kata Rsi menjadi pengertian “Tingkat Kesucian” sedangkan kata Bisma berasal dari kata “Wisma”, karena mendapat perubahan fonem “b” menurut hokum bunyi “p,b,w” menjadi kata “Wisma”. Kata Wisma atau tempat bernaung yang maksudnya adalah “Stula Sarira”, tempat bersemayamnya “Atma,Rokh dan Panca Maha Bhuta”. Dengan demikian kata Rsi Bisma adalah memiliki makna “Meningkatkan Kesucian Panca Maha Bhuta”. (upacara pengabenan)

·         Dewi Sri Kandhi adalah menjadi simbul, Dewi adalah simbul keindahan dan keutamaan, Sri adalah sebagai simbul “Sinar Suci atau Dewa” sedangkan kata Kandhi menjadi Kanda yang mengandung maksud “Ketatuan”.atau proses. Nama Arjuna lain katanya Dananjaya kata Dana mengandung arti “Ketulusan”, sedangkan Anjaya artinya suatu kemenangan. Kata “deresta Jumena”, memiliki arti filosofi menjadi kata “Deresta Jumeneng” yang mengandung maksud “Menegakkan Dresta “ (tradisi). Dengan demikian dapat diartikan maksud, “pelaksanaan Upacara untuk meningkatkan kesucian Panca Maha Bhuta, berdasarkan ketulusan, agar cepat kembali ke sumbernya dan menjadi pedoman” (Dresta), untuk selamanya.

3.    Rsi Bisma meminta seteguk air kepada Raja Duryodana, dengan tempat air mempergunakan sebuah kendi manik, dan kundi manic sebagai simbul “Indriya” Rsi Bisma kembali meminta kepada Arjuna, serta Arjuna mempergunakan sebuah anak panah dipanahkan ketanah maka keluarlah air dari dalam tanah.

Kata panah memiliki maksud “Manah”, menjadikan anak panah yang mengandung pengertian “Instuisi”,(suara hati), dan air yang memancar dari dalam tanah, mengandung arti “Memohon Toya Pemanah”.

4.    Tiga anak panah sebagai bantalnya Rsi Bisma, disampingkan sebagai simbul leluhur juga mengandung makna Gegalang (pisang kayu dan uang kepeng bolong 250 kepeng).

5.    Rsi Bisma meminta air untuk membersihkan badan kepada Raja Duryodana, dan Duryodana memberikan air mempergunakan sebuah tempayan emas, hal itu menjadi simbul “Segala Kegemerlapan Duniawi”, kemudian Arjuna mengahaturkan air dengan cara mementangkan dua anak panahnya, sehingga satu anak panah jatuh dibagian kaki dan yang satunya jatuh dibagian kepala Sang Rsi. Hal ini mengandung makna “Pralina” atau adanya memohon “toya penembak”, (informan : Ida Pedande Gede Pemaron).

6.    Menjelang detik-detik penghembusan nafas terakhir, Rsi Bisma berpesan kepada Arjuna, bahwa setelah Beliau wafat agar jazadnya dibakar mempergunakan senjata “Geni Astra”, hal ini menjadi simbul adanya “Tirtha Pengantas”. (pitrayadnya.com)